Sabtu, 19 Januari 2013

Menghapus Mitos Lama di Dunia Pendidikan


Tiap kali menjelang tahun ajaran baru tiba, terlihat para siswa SMA yang baru lulus Ujian Nasional memenuhi tempat-tempat pembelian formulir untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Mereka sangat bersemangat mendapatkan formulir tersebut sampai rela berpanas-panasan ditengah keramaian. Tujuan mereka tak lain dan tak bukan adalah agar mereka dapat lulus ke perguruan tinggi dengan jurusan yang mereka minati dengan harapan setelah lulus kuliah mereka dapat mendapatkan pekerjaan yang bagus, dengan gaji yang tinggi seperti yang selama ini “dibisikkan” oleh orang tua mereka. Akan tetapi apa yang mereka dapatkan setelah selesai kuliah ? Ternyata bukan kebahagiaan yang mereka dapatkan, akan tetapi kekecewaan yang datang silih berganti. Ternyata apa yang disampaikan oleh orang tua mereka hanyalah sebuah “Mitos Lama” yang sampai sekarang masih dianut oleh sebahagian kalangan. Tidak sedikit dari para lulusan Perguruan Tinggi yang menekuni pekerjaan yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. Akibatnya muncul kesan, hasil belajar mereka di bangku kuliah selama bertahun-tahun menjadi sia-sia. Lebih parah lagi tidak sedikit pula para lulusan Perguruan Tinggi yang akhirnya hanya menjadi pengangguran terdidik, dan pada akhirnya lembaga lah yang sering kali disalahkan.
Dimana akar masalahnya ?
Setidaknya ada tiga sebab yang menyebabkan kondisi diatas. Pertama, Kebanyakan dari anak-anak kita yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi hanya berorientasi pekerjaan semata. Tujuan tersebut memang tidak sepenuhnya salah, akan tetapi kondisi di lapangan sering kali berbeda dengan harapan. Mungkin zaman dulu berbekal kemampuan membaca, menulis dan menghitung sudah cukup untuk mendapatkan pekerjaan, akan tetapi pada saat sekarang kita memerlukan kemampuan lebih dari itu untuk dapat bersaing dengan yang lainnya. Kedua, kesalahan yang dilakukan oleh siswa dan orang tua khususnya adalah dalam memilih sekolah lanjutan. Tidak sedikit orang tua yang menginginkan anaknya cepat mendapatkan pekerjaan, namun lebih memilih SMA daripada SMK. Begitupun dengan Perguruan Tinggi yang dipilih, mereka terjebak pada Brand Universitas. Para siswa atau orang tua siswa lebih memilih Universitas yang jelas – jelas bertujuan mencetak Akademisi dari pada Politeknik yang memang ditujukkan untuk menghasilkan para praktisi. Ketiga, kesalahan dalam memilih jurusan di perguruan tinggi juga akan menjadi permasalahan dikemudian hari. Tidak sedikit para lulusan perguruan tinggi yang memilih Jurusan tertentu hanya karena jurusan tersebut passing grade nya kecil sehingga tidak begitu banyak peminatnya. Padahal mereka sendiri sadar bahwa jurusan tersebut bukanlah pilihan mereka. Akibatnya proses belajar dibangku kuliah pun tidak optimal sehingga tujuan kuliah bukan lagi untuk belajar, melainkan untuk mempertahankan status.
Lantas bagaimana solusinya ?
Sebelum menentukan pilihan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, ada baiknya dipikirkan terlebih dahulu tujuan apa yang hendak dicapai dengan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Jika tujuan kita untuk mencari pekerjaan ada baiknya memilih SMK kemudian melanjutkan ke politeknik. Namun jika memang tujuannya murni untuk mencari ilmu atau ingin menjadi akademisi pilihlah Universitas dan jurusan yang memang mengarah kepada tujuan tersebut. Dengan begitu pada akhirnya para siswa akan menyadari apa sebenarnya tujuan mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan tidak akan “kabawa ku sakaba-kaba”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar