Minggu, 24 Februari 2013

Pilgub Jabar, Antara Citra dan Mesin Politik

Pemilihan gubernur Jawa Barat yang berlangsung hari ini ternyata memberikan kejutan tersendiri, khususnya bagi warga Jawa Barat. Setidaknya hal ini terlihat dari 2 hal. Pertama, kasus hukum yang menimpa mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishak yang notabene partai pengusung utama pasangan Ahmad Heryawan Dedy Mizwar ternyata tidak berpengaruh secara signifikan terhadap elektabilitas pasangan ini pada pilgub yang digelar hari ini. Kedua, hasil survei yang digelar oleh beberapa lembaga survei ternyata hampir semuanya meleset, dimana kebanyakan dari lembaga survei yang ada menempatkan pasangan Ahmad Heryawan- Dedy Mizwar akan bersaing ketat dengan pasangan Dede Yusuf - Lex Laksamana. Nyatanya, pasangan Oneng Teten justru menyalip pasangan yang diusung partai Demokrat ini. Berdasarkan fenomena diatas, ada hal menarik yang dapat kita cermati. Dengan adanya kasus hukum yang menimpa partai pendukung utama Petahana, para kompetitor berharap mendapatkan “berkah” dari adanya kasus ini.Mereka berharap elektabilitas pasangan ini akan menurun seiring citranya yang tercoreng. Namun ternyata para kandidat lain yang bersaing pada pilgub jabar ini lupa bahwa PKS bukanlah partai yang mengandalkan citra. Militansi kader yang dimiliki merupakan aset utama yang dimiliki oleh partai pendukung petahana ini. Malah sejak mencuatnya kasus yang membelit mantan petinggi partai ini menjadikan kader partai ini semakin solid, bukan sebaliknya. Sejak kelahirannya, partai ini memang tidak mengandalkan figur tertentu untuk mendongkrak suaranya. Sebaliknya, partai ini justru merekrut kader untuk ditingkatkan popularitasnya. Hal ini mengingatkan kita pada pengalaman pilgub jabar tahun 2008 yang lalu. Saat itu hanya segelintir orang yang mengenal Ahmad Heryawan. Namun berkat militansi kader yang menjalankan mesin politik secara massif dan rapi ternyata sanggup mengantarkan Ahmad Heryawan menuju kursi Jabar Satu.  Tidak heran pada banyak pilkada di beberapa daerah, partai ini menjadi rebutan partai lain untuk diajak bergabung mengusung calon yang diusungnya. Bagaimana tidak, ditengah kasus yang menimpa mantan petinggi partai ini, seluruh kader diakar rumput mereka justru semakin massif melakukan “Direct Selling” ke berbagai pelosok tanpa dibayar sepeserpun. Bahkan mereka tidak peduli dengan hujan yang mengguyur mereka. Melihat fenomena partai ini dari waktu ke waktu menjadikan partai ini tak habis untuk didiskusikan. Bahkan tidak sedikit para pengamat politik maupun mahasiswa pasca sarjana menjadikan fenomena partai ini sebagai bahan tulisan pada buku ataupun karya tulis mereka.Terlepas baik atau buruknya partai ini, seolah partai ini mengajak kita untuk melihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi dalam partai ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar