Rabu, 08 Mei 2013

Guru Gemar "Nguseup"


Bagi sebagian orang, memancing mungkin merupakan hobi yang tidak bisa dilepaskan dari hidupnya. Begitupun dengan sosok seorang guru, tidak sedikit dari mereka yang memiliki hobi memancing. Bahkan di beberapa sekolah terdapat klub-klub memancing yang anggotanya terdiri dari guru-guru, pegawai TU sampai penjaga sekolah. Mereka pun rutin mengadakan kegiatan mancing bareng ke berbagai daerah.
Sebelum berangkat ke tempat pemancingan, biasanya mereka mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Mulai dari pancingan sampai umpan terbaik mereka persiapkan dengan harapan ikan-ikan yang akan mereka dapatkan adalah ikan-ikan yang besar ukurannya.  Meskipun begitu mereka tetap bersyukur kalaupun nanti hanya ikan-ikan kecil yang mereka dapatkan. Yang penting mereka sudah berusaha menyediakan umpan terbaik bagi ikan-ikan tersebut.  
            Guru yang baik bukanlah guru yang hanya menjadikan mancing sebagai hobi. Lebih dari itu guru yang baik adalah guru yang mampu meangaplikasikan filosfi memancing dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik. Guru yang baik paham betul untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal dibutuhkan kerja keras yang maksimal. Guru yang baik sangat memahami bahwa “insentif” yang diberikan oleh lembaga berbanding lurus dengan kinerja yang mereka berikan untuk lembaga. Guru yang baik akan tetap bersyukur meskipun gaji yang diterimanya mungkin tidak terlalu besar. Baginya usaha untuk mempersembahkan proses pembelajaran terbaik dikelas adalah hal terpenting. 
            Namun faktanya tidak sedikit dari kita yang menuntut sekolah maupun yayasan dimana kita bekerja untuk memberikan gaji secara professional tanpa terlebih dahulu bercermin apakah kita sudah bekerja secara profesional. Tidak sedikit dari kita yang datang ke sekolah sering kesiangan, sering meninggalkan sekolah ketika jam KBM masih berlangsung, dan belum menjadikan anak didik sebagai prioritas namun mengaharapkan gaji yang memadai.
            Sejatinya maju atau tidaknya sebuah lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh kinerja dari para pendidiknya. Demikian halnya dengan insentif yang kita terima dari lembaga tempat kita mengajar sangat ditentukan oleh etos kerja selama kita berada dilembaga tersebut. Pepatah karuhun kita yang mengatakan rejeki mah bakal nuturkeun nampaknya belum mendarah daging dalam diri kita sebagai pendidik. Kebanyakan dari kita masih lebih berfokus pada gaji yang diberikan oleh lembaga maupun tunjangan-tunjangan lainnya seperti tunjangan sertifikasi maupun tunjangan yang lainnya daripada peningkatan kompetensi maupun kinerja diri kita. Hal ini tentu saja mengakibatkan proses pembelajaran menjadi belum optimal.
             Oleh karena itu penulis mengajak kepada kita semua khususnya kepada penulis sendiri untuk lebih meningkatkan kualitas kerja kita tanpa harus memikirkan berapa besar insentif yang akan kita terima dari lembaga. Marilah kita jadikan usaha untuk mempersembahkan proses pembelajaran terbaik dikelas sebagai fokus utama dalam aktifitas keseharian kita. Dengan begitu kita berharap akan muncul tunas-tunas bangsa yang siap untuk mengangkat derajat bangsa kita melalui kompetensi yang mereka miliki.

2 komentar:

  1. Upgrade saja hobby mancing nya jadi wirausaha bidang perikanan di as syifa pak... siapa tahu bisa jadi bidang usaha yg menambah honor ngajar dll... saya lihat sumber air berlimpah tuh di subang ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia kang, dari kecil kepengen banget punya kolam ikan, cuma saat ini belum ada modal, maklum belum sertifikasi. Do'akan saja ya ...

      Hapus