Senin, 24 Juni 2013

Haruskah Harga BBM Dinaikkan ?


Meskipun rakyat berteriak menyampaikan penolakannya dengan lantang, akhirnya pemerintah tetap menaikkan harga BBM terhitung mulai tanggal 21 Juni 2013. Ditengah penghasilan yang pas-pasan dan menjelang bulan suci ramadhan, nampaknya masyarakat harus lebih mengencangkan ikat pinggang dan berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Pemerintah beralasan, pengurangan subsidi yang dilakukan disebabkan oleh subsidi tersebut tidak tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati oleh orang-orang kaya. Oleh karena itu, dengan mengurangi subsidi BBM, dana yang ada akan dialihkan untuk berbagai program pro rakyat. Namun benarkah demikian ? Ada beberapa fakta yang nampaknya perlu dicermati. 
Pertama, argumen yang mengatakan bahwa subsidi yang selama ini dikeluarkan oleh pemerintah lebih banyak dinikmati oleh orang kaya seolah terbantahkan dengan jumlah pajak yang dibayarkan oleh orang kaya ternyata jauh lebih besar dari pada pajak yang dibayarkan oleh orang biasa. Besarnya pajak bea masuk kendaraan roda empat dan pajak tahunan yang harus dibayarkan oleh pemilik roda empat tentu jauh lebih besar dari pada pajak yang harus dikeluarkan oleh pemilik kendaraan roda dua. Pertanyaannya, kemanakah uang pajak yang sangat besar itu mengalir ? Apakah uang tersebut hanya dinikmati oleh orang-orang seperti Gayus Tambunan beserta atasan dan jajarannya ? Hanya Allah yang tahu jawabannya.
Kedua, jika benar subsidi yang selama ini digelontorkan salah sasaran, mengapa baru sekarang subsidi tersebut dikurangi ? Mengapa harus menunggu momentum menjelang Pemilu seperti halnya pembagian BLT pada tahun 2008 ? Apakah pemerintah ingin disebut berjasa oleh rakyat dengan cara membuat terlebih dahulu rakyat menderita dengan cara menaikkan harga BBM dan setelah itu datang bagaikan pahlawan dengan mengobral BLSM ? Hanya pemerintah yang tahu jawabannya.
Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa kenaikan harga BBM akan menguntungkan dunia pendidikan karena dana yang ada akan dialihkan untuk peningkatan jumlah beasiswa bagi siswa miskin, baik itu dari jumlah penerima maupun dari nominal uangnya patut dipertanyakan. Jumlah siswa miskin yang akan menerima beasiswa memang akan bertambah, namun disisi lain kenaikan BBM ini akan berdampak pada tingginya angka putus sekolah dan juga meningkatnya jumlah pekerja anak dikarenakan orang tua yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Artinya, anak pun terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah demi membantu orang tua. Apalah artinya BLSM yang hanya diberikan selama beberapa bulan, dan setelah itu rakyat kembali melarat.
Keempat, jika pemerintah merasa yakin bahwa menaikkan harga BBM merupakan kebijakan yang tepat mengapa pula harus memberikan sogokan kepada rakyat berupa BLSM ? Yang lebih tidak masuk akal lagi adalah nominal uang BLSM diseluruh Indonesia sama rata padahal pada kenyataannya biaya hidup antara daerah yang satu dengan daerah lainnya tentu berbeda.
Kelima, alasan  pemerintah menaikkan harga BBM adalah karena harga BBM dinegara kita terlalu murah sehingga perlu disesuaikan dengan harga internasional. Pertanyaannya ? Jika harga BBM harus mengikuti harga yang berlaku secara Internasional, lalu mengapa pendapatan buruh pabrik tidak distandarkan secara Internasional pula ? Harga bensin di Jerman memang diatas Rp. 10.000, namun buruh pabrik disana berpenghasilan minimal 25 juta perbulannya.

Melihat fakta-fakta diatas, masihkah ada alasan rasional yang mengharuskan harga BBM harus naik ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar