Minggu, 21 Juli 2013

Mana Evaluasi Kurikulum 2006 ?


Saat ini, revolusi dalam dunia pendidikan tengah terjadi. Masyarakat pun tengah bersiap menyambut kurikulum baru yang akan diberlakukan bulan Juli ini. Adapun “sambutan” yang disampaikan oleh masyarakat pun bermacam-macam, mulai dari yang secara tegas menolak, menerima maupun yang  datar-datar saja. Terlepas dari itu semua, harus kita yakini bahwa dalam menghadapi perkembangan zaman yang sangat cepat ini, revolusi dalam bidang pendidikan adalah suatu keniscayaan. Pertanyaannya, apakah perubahan tersebut harus selalu identik dengan perubahan kurikulum ?
            Alasan utama pemerintah akan memberlakukan kurikulum baru adalah bahwa kurikulum yang berlaku saat ini tidak akan mampu menjawab tantangan yang akan dihadapi oleh generasi sekarang dimasa yang akan datang. Dengan kata lain, kurikulum tahun 2006 yang saat ini masih digunakan sudah tidak relevan lagi. Pertanyaan muncul ketika pemerintah, dalam hal ini kemdiknas tidak dapat menjabarkan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada kurikulum yang berlaku saat ini dengan parameter yang jelas. Padahal idealnya hasil evaluasi yang objektif harus dijadikan dasar dalam melakukan suatu perubahan. Mengkambing hitamkan kurikulum yang saat ini berlaku tanpa melakukan evaluasi terhadap komponen-komponen lain yang berkaitan merupakan suatu tindakan yang gegabah.
            Pada dasarnya ada dua komponen yang sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan sebuah kurikulum. Pertama, apakah kualitas tenaga pendidik yang ada sudah cukup memadai untuk menjalankan kurikulum yang dibuat. Jika belum, sejauh mana upaya pemerintah dalam memfasilitasi para tenaga pendidik tersebut untuk meningkatkan kemampuannya. Kedua, apakah sarana belajar disemua sekolah sudah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan kurikulum yang ada.
            Kedua faktor inilah yang sebaiknya dievaluasi oleh pemerintah sebelum kurikulum baru ini benar-benar diterapkan. Memberlakukan kurikulum baru tanpa mempersiapkan tenaga pendidik yang terlatih dan sarana belajar yang memadai sama saja dengan memasukkan seekor ikan ke dalam aquarium yang airnya diisi belakangan. Oleh karena itu evaluasi yang objektif terhadap kedua komponen ini merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan perbaikan dalam dunia pendidikan.
Dengan menyampaikan hasil evaluasi secara objektif diharapkan dapat mengurangi resistensi yang selama ini terjadi dalam masyarakat. Selain itu dengan adanya evaluasi ini pemerintah dapat melakukan perubahan ataupun perbaikan dengan tepat sesuai dengan kebutuhan dilapanagan. Pada akhirnya masyarakat, khususnya praktisi pendidikan akan memahami bahwa perubahan ini adalah suatu kebutuhan dan bukan paksaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar