Rabu, 21 Agustus 2013

Hitam Putih SNMPTN 2013



Para siswa SMU yang saat ini duduk di kelas 12 nampaknya harus bersiap-siap dengan  sistem seleksi masuk ke perguruan tinggi yang akan diterapkan pada tahun 2013 ini. Hal ini dikarenakan sistem seleksi yang digunakan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana mulai tahun ini akan diberlakukan sistem undangan sebagai pengganti seleksi melalui jalur tulis. Adapun yang akan dijadikan acuan dalam penerimaan calon mahasiswa baru ini adalah prestasinya selama duduk di bangku sekolah, terutama prestasi akademik yang dibuktikan dengan nilai raport disamping prestasi-prestasi lainnya. Kebijakan yang terkesan mendadak ini tentu saja mendapatkan respon beragam dari masyarakat, khususnya pihak sekolah dan orang tua siswa.
            Ada yang berpendapat bahwa kebijakan ini kurang tepat dilaksanakan pada tahun ini. Alasannya, tidak adanya sosialisasi yang dilakukan jauh-jauh hari mengakibatkan pihak sekolah kurang mempunyai persiapan yang matang. Dilain pihak, tidak sedikit pula masyarakat yang setuju dengan dilaksanakannya seleksi dengan sistem yag baru ini karena dianggap dapat  meringankan beban mereka berhubung proses seleksi untuk tahun ini para calon mahasiswa tidak dipungut biaya sepeserpun.
            Pada dasarnya tujuan pemerintah menerapkan sistem seleksi semacam ini adalah semata-mata untuk memastikan bahwa hanya mereka yang memiliki prestasi lah yang berhak masuk keperguruan tinggi negri. Dengan begitu, mereka yang akan duduk di bangku kuliah adalah mereka yang benar-benar siap untuk belajar. Tujuan yang mulia ini sudah sepatutnya kita acungi jempol. Akan tetapi ada beberapa aspek yang masih menjadi kendala jika sistem seleksi semacam ini benar-benar diterapkan.
            Pertama, kebijakan yang terkesan mendadak ini menyebabkan para siswa dan pihak sekolah tidak mempunyai persiapan yang matang dalam menghadapi SNMPTN tahun ini. Hal ini dikarenakan mereka harus merubah rencana dan strategi yang selama ini sedang berjalan, dan hal ini tidaklah mudah. Kedua, dijadikannya nilai raport sebagai acuan yang menentukan kelulusan dikhawatirkan akan memunculkan potensi kecurangan dalam pengisian nilai raport. Untuk menjaga nama baiknya di mata masyarakat, tidak mustahil pihak sekolah akan melakukan pengatrolan nilai raport secara massal, seperti halnya ketika sekolah “membantu” siswanya dalam Ujian Nasional.  
            Akibatnya, siswa yang lolos ke perguruan tinggi belum tentu siswa yang memang berprestasi di sekolahnya. Hal tersebut akan menjadi masalah bagi sekolah tersebut jika dikemudian hari ditemukan kasus bahwa mahasiswa yang berasal dari sekolah tersebut mempunyai nilai akademik yang buruk. Jika demikian tidak mustahil pihak perguruan tinggi negri akan memberikan catatan pada sekolah yang bersangkutan yang pada akhirnya siswa generasi selanjutnya lah yang kena getahnya.
            Oleh karena itu, ada baiknya sistem seleksi masuk ke perguruan tinggi ini ditinjau kembali, atau setidaknya diundur sampai pihak sekolah benar-benar telah siap. Selain itu yang lebih penting lagi sebelum sistem seleksi yang baru ini dilaksanakan adalah mengoptimalkan terlebih dahulu peran pengawas sekolah dalam melakukan fungsi pengawasannya demi menjaga kualitas sekolah yang bersangkutan. ( Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 16 Februari 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar