Minggu, 11 Agustus 2013

Ironi Pendidikan Agama Islam



Persoalan korupsi yang melanda negeri ini  seakan menjadi penyakit akut yang entah bagaimana cara mengobatinya dan entah harus mulai dari mana mengatasinya. Pemerintah seakan tak berdaya mencegah terjadinya korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negara yang secara terus menerus menggerogoti kekayaan Negara. Disisi lain, masyarakat tetap setia menjadi korban keganasan perilaku korup yang dilakukan oleh para pejabat. Untuk mengatasi kondisi tersebut pemerintah mencoba peruntungan dengan mengeluarkan kebijakan perubahan kurikulum pendidikan yang saat ini sedang diuji publikkan. Dengan merubah kurikulum pendidikan, pemerintah berharap dapat memperbaiki moral peserta didik agar menjadi insane yang berkarakter mulia.
Akan tetapi nampaknya cita-cita luhur tersebut terkesan masih jauh panggang dari api. Alih – alih ingin memperbaiki akhlak peserta didik, konsep dari kurikulum baru ini malah lebih menekankan kemampuan kognitif siswa dari pada mewarnai konsep pendidikan dengan muatan karakter. Jika kita melihat jumlah jam pelajaran Pendidikan Agama Islam, baik itu yang berlaku di Sekolah Dasar, SMP maupun SMA ternyata pelajaran PAI ini hanya diberikan porsi yang sangat sedikit setiap minggu nya dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Pelajaran PAI masih dianggap pelajaran pelengkap dan bukan pelajaran utama disetiap satuan pendidikan. Maka tidak heran ketika kita melihat fenomena tawuran antar pelajar, pergaulan bebas dan masalah remaja lainnya sering kali mewarnai wajah dunia pendidikan di Negara kita.
Dilain pihak, pelaku korupsi khususnya korupsi kelas kakap ternyata bukanlah orang-orang yang tidak berpendidikan, melainkan orang-orang yang professional di bidang tertentu, lengkap dengan gelar pendidikan yang memadai. Hal ini mengandung arti bahwa ternyata masalah yang dialami oleh dunia pendidikan kita bukanlah kurangnya kompetensi dari para lulusan lembaga pendidikan, melainkan kompetensi yang dimiliki tersebut tidak dibarengi dengan moral yang baik. Bagaimana mungkin kita mengharapkan lahirnya insan-insan terdidik dengan akhlak mulia dari suatu proses pendidikan, sementara porsi yang kita berikan untuk membentuk karakter peserta didik sangatlah sedikit. Padahal pada dasarnya pendidikan agama lah yang sangat efektif dalam membentuk karakter seseorang.
Oleh karena itu, jika kita ingin melahirkan para peserta didik yang berakhlak mulia, ada baiknya pelajaran Pendidikan Agama ditambah porsinya, jika perlu berikan juga pelajaran tambahan diluar kelas. Adapun untuk kurikulum baru yang akan diberlakukan, sebaiknya pemerintah tidak terfokus pada kemampuan kognitif semata, akan tetapi ada baiknya mewarnai kurikulum tersebut dengan muatan karakter yang berbasiskan pendidikan agama, karena pendidikan karakter yang termuat dalam pendidikan agama sangatlah lengkap. Selain itu dengan pendidikan karakter yang berbasis pendidikan agama, peserta didik akan lebih mengenal siapa sosok yang harus dijadikan tauladan. (Dimuat di Harian Umum Republika, 07 Januari 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar