Rabu, 14 Agustus 2013

Puasanya Media



Setiap kali bulan suci ramadhan tiba, hampir semua stasiun televisi seolah berlomba menampilkan berbagai tayangan islami.  Tayangan-tayangan tersebut dikemas dalam berbagai acara seperti talk show dengan para da’I, sinetron islami sampai dengan acara-acara yang bertemakan jejak sejarah kebudayaan Islam. Tak hanya itu, para pembawa acara yang biasanya tampil boboleklakan, khusus selama bulan ramadhan ini mereka bersedia “merapihkan” pakaiannya bahkan disertai dengan penutup kepala meskipun terkesan saayana.
Wajah media yang biasanya jauh dari nilai-nilai edukasi serta nilai agama “dipermak” sedemikian rupa sehingga menjadi wajah manis dan anggun bagaikan bidadari yang turun dari langit. Stasiun televisi yang biasanya banyak menampilkan tayangan-tayangan berbau kekerasan, ghibah dan juga acara-acara hiburan yang tak jarang mengumbar aurat, selama bulan suci ramadhan ini seolah berganti baju menjadi media yang banyak menyuguhkan tayangan yang islami dalam rangka menghargai umat Islam yang melaksanakan ibadah shaum.
Meskipun demikian tak sedikit pula yang menilai tayangan-tayangan islami tersebut tak lebih dari upaya stasiun televisi yang ada untuk menaikkan rating mereka dihadapan publik . Terlepas dari maksud dan tujuan mereka, semua tayangan islami tersebut sudah selayaknya kita dukung. Tak hanya itu, kita pun tentu berharap seluruh acara-acara tersebut tidak hanya ditayangkan saat bulan suci ramadhan saja namun juga di bulan-bulan yang lainnya.
            Akan tetapi jika melihat pengalaman yang sudah-sudah nampaknya harapan tersebut masih sulit terwujud. Lain ladang lain belalang, lain bulan lain pula kelakukannya. Ketika bulan ramadhan berlalu, stasiun televisi yang ada seolah kembali ke “habitat” aslinya. Tayangan-tayangan yang berbau ghibah, fitnah, kekerasan dan juga menjurus pada pornografi dan pornoaksi kembali menghiasi layar kaca pemirsanya. Puasa yang dilakukan oleh media selama sebulan penuh ternyata tidak mampu memberikan pelajaran bagi media dalam mengendalikan syahwatnya untuk tidak menampilkan kembali atau setidaknya mengurangi tayangan-tayangan yang tidak mendidik tersebut.
            Setali tiga uang nampaknya masyarakat pun “maklum” akan kebiasaan media yang seperti itu. Lebih dari itu, sebagian besar masyarakat kita ternyata (kembali) menikmati acara-acara yang disuguhkan oleh media sekalipun itu tidak mendidik. Hal ini dimungkinkan karena sejatinya media adalah cermin suatu masyarakat. Bagi mereka nampaknya acara hiburan yang tidak bersifat mendidik bahkan cenderung menjerumuskan masih lebih menarik dibandingkan acara-acara yang memberikan edukasi. Kondisi tersebut sesungguhnya tidak terlalu mengherankan mengingat selama ini masyarakat kita memang dididik seperti itu oleh media. Bagi media nampaknya rating acara adalah kunci penting untuk mempertahankan eksistensi mereka. Lebih jauh lagi acara yang memiliki banyak penonton tentu akan mendatangkan pundi-pundi uang yang jumlahnya tidak sedikit.
            Disisi lain, mendidik atau tidaknya suatu tayangan nampaknya belum menjadi prioritas media yang ada. Padahal sebagai salah satu pilar sekaligus pegawal demokrasi, sejatinya media berupaya untuk memberikan pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat dan bukan sebaliknya. Banyaknya permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat seperti kriminalitas,takhayul, kenakalan remaja dan permasalahan lainnya sejatinya tak dapat dilepaskan dari peran media yang selama ini menyuguhkan berbagai acara menarik namun tidak mendidik.
            Akibatnya masyarakat menjadi tidak mampu bersikap kritis dan cenderung menelan bulat-bulat semua yang disuguhkan oleh media. Lebih parah lagi, masyarakat seolah kehilangan daya nalarnya dengan begitu saja percaya kepada apa-apa yang dihembuskan oleh media. Konflik horizontal yang disebabkan oleh masalah sepele atau karena kabar burung  yang belum tentu kebenarannya seolah menjadi budaya yang cukup mengakar khususnya dikalangan masyarakat bawah. Tak heran ketika tidak sedikit pengamat sosial memandang masyarakat Indonesia sebagai potret bangsa yang sedang sakit.
            Melihat fenomena diatas memang kurang bijak jika kita melemparkan semua kesalahan kepada media yang ada. Masih banyaknya tayangan-tayangan yang tidak mendidik pada dasarnya disebabkan oleh masih banyaknya orang yang ingin menontonnya. Mengurangi atau menghapus tayangan yang tidak mendidik sama sulitnya dengan menghapus peredaran narkoba dan juga prostitusi. Selama konsumennya masih ada, maka selama itu pula kedua penyakit masyarakat tersebut akan tetap ada.
            Oleh karena itu, jalan terbaik untuk mengobati masyarakat yang sedang sakit tersebut adalah dengan cara merubah paradigma yang selama ini berlaku dalam masyarakat dan media memiliki peluang sangat besar untuk itu. Bulan ramadhan hendaknya dimaknai sebagai masa latihan untuk senantiasa memperbanyak kebaikan dan ketika bulan suci tersebut lewat bukan berarti masyarakat berhenti untuk berbuat kebaikan melainkan melanjutkan hal-hal baik tersebut pada bulan-bulan berikutnya.
            Adapun bagi media yang selama ini menyuguhkan berbagai tayangan yang islami dan mendidik selama bulan ramadhan hendaknya hal itu tidak dijadikan kosmetik semata untuk menaikkan rating namun benar-benar didasari oleh keinginan untuk mencerdaskan dan mensalehkan masyarakat. Bulan suci ramadhan hendaknya dijadikan momentum untuk mengajak masyarakat agar senantiasa berbuat kebaikan kapan pun dan dimanapun mereka berada. Dengan begitu kita pun berharap pada akhirnya media mampu menyajikan tontonan-tontonan yang mampu dijadikan tuntunan oleh masyarakat. Mudah-mudahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar