Selasa, 10 September 2013

Mengubah Paradigma Kegagalan



Tanggal  25 Mei mendatang bisa jadi merupakan hari yang paling ditungu-tunggu oleh seluruh siswa SMA dan SMK di tanah air. Pada tanggal tersebut pemerintah akan mengumumkan secara resmi hasil Ujian Nasional yang berlangsung beberapa waktu yang lalu. Tidak sedikit dari para siswa khususnya yang pelaksanaan UN nya tersendat-sendat  menunggu dengan harap-harap cemas apakah mereka dapat lulus atau tidak. Hal tersebut memang wajar mengingat UN tahun ini adalah UN paling amburadul sepanjang sejarah. Bukan hanya masalah-masalah teknis yang kembali terulang, namun khusus untuk tahun ini seluruh siswa yang ada di sebelas propinsi mengalami penundaan pelaksanaan UN.
            Setelah pengumuman hasil UN pun nampaknya para siswa belum bisa tidur dengan nyenyak. Beberapa hari setelah hasil UN diumumkan, hasil seleksi SNMPTN undangan pun akan diumumkan. Seandainya Ujian Nasional berjalan dengan jujur, maka secara logika akan ada banyak siswa yang tidak lulus. Hal ini dikarenakan perbedaan kualitas sarana belajar, kualitas pengajar dan juga perbedaan kualitas proses pembelajaran tidaklah mungkin menghasilkan output yang sama. Selain itu, kondisi fisik dan psikis siswa pada saat melaksanakan ujian akan sangat berpengaruh terhadap hasil ujian.
Akan tetapi paradigma keliru tentang kegagalan yang selama ini dianut oleh sebagian besar masyarakat menyebabkan sekolah harus melakukan tindakan “penyelamatan” agar tidak terjadi kegagalan. Kegagalan seolah dianggap aib yang harus dibuang jauh-jauh, sedangkan orang yang mengalami kegagalan tersebut mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sekitar. Akibatnya siswa pun tidak mampu menjadi insan yang mandiri. Mereka menjadi pribadi yang cengeng, yang tidak terbiasa mengatasi persoalan yang dihadapi.
Paradigma keliru tentang kegagalan ini mengakibatkan sikap yang keliru pula dalam menghadapinya. Banyaknya kasus siswa yang mabuk-mabukan lantaran frustasi nilai akademiknya jeblok atau perbuatan anarkis calon kepala daerah yang kalah dalam pilkada menunjukkan ketidaksiapan mereka dalam menghadapi kegagalan.
Hal ini sangat jauh bertolak belakang jika kita melihat negara-negara maju dalam memandang sebuah kegagalan. Disana kegagalan dianggap sebagai kesuksesan yang tertunda atau salah satu anak tangga yang memang harus dilalui untuk mencapai puncak kesuksesan. Tokoh-tokoh dunia seperti Bill Gates, Henry Ford dan Thomas Alfa Edison bukanlah orang-orang yang tidak pernah mengalami kegagalan. Justru dari banyak kegagalanlah mereka mendapatkan banyak pelajaran.
Dalam suatu proses pendidikan, kegagalan bukanlah suatu hal yang perlu dihindari. Kegagalan yang terjadi hendaknya dijadikan bahan evaluasi semua pihak menuju kearah yang lebih baik. Mulai dari guru, peserta didik sarana belajar dan juga kurikulum hendaknya menjadi bahan evaluasi. Yang tak kalah penting adalah bagaimana seorang pendidik menyiapkan para peserta didik dalam menghadapi kegagalan jika itu memang benar-benar terjadi. Dengan memandang kegagalan sebagai hal positif diharapkan akan muncul sikap positif pula dalam menghadapinya.( Dimuat di Harian Umum Republika, 20 Mei 2013 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar