Minggu, 29 September 2013

Menyoal Sarjana Cepat Saji



Di negara berkembang seperti Indonesia, gelar sarjana nampaknya masih dianggap hal sangat penting yang harus dimiliki seseorang jika ingin mendapatkan pekerjaan maupun untuk meningkatkan pendapatan atau jabatan. Sekalipun gelar tersebut tidak selalu identik dengan kompetensi yang dimiliki, orang dengan titel sarjana terlihat seolah-olah menduduki “kasta” tersendiri dimata dunia usaha maupun dihadapan calon mertua.
            Tingginya animo masyarakat untuk meraih gelar sarjana namun terhambat oleh kesibukannya seolah dijadikan peluang oleh lembaga – lembaga pendidikan tertentu untuk membuka kelas “Ekspress”. Alhasil gelar sarjana yang biasanya diraih dalam waktu empat sampai lima tahun saat ini bisa ditempuh dalam waktu tidak lebih dari setahun.
            Menjamurnya lembaga pendidikan yang menawarkan ijazah instant semacam ini antara lain disebabkan oleh ketidaktegasan pemerintah dalam  menertibkan lembaga-lembaga pendidikan yang melanggar ketentuan. Pembiaran yang dilakukan oleh pemerintah menjadikan lembaga-lembaga pendidikan semacam ini tetap beroperasi menjalankan aksinya. Akhirnya masyarakt secara umumlah yang dirugikan.  Orang yang benar-benar menjalani proses pendidikan sarjana selama empat sampai lima tahun harus rela disamakan kedudukannya dengan sarjana kemarin sore.
            Dalam pandangan penulis, praktek-praktek semacam ini merupakan suatu bentuk kejahatan intelektual yang tidak bisa ditolerir, terlebih jika hal ini dilakukan oleh seorang pendidik.  Pendidikan sejatinya tidak hanya berbicara tentang selembar ijazah, lebih dari itu pendidikan merupakan suatu proses dimana kompetensi akademik dan kompetensi sosial diasah. Lamanya waktu yang dihabiskan oleh seseorang untuk menjalani proses pendidikan tentu akan sangat berpengaruh pada kualitas diri yang bersangkutan.
            Oleh karena itu sudah selayaknya kita kembali pada hakikat pendidikan yang seseungguhnya dengan cara mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku dalam dunia pendidikan. Menuntut ilmu memang butuh perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Banyaknya uang yang harus kita keluarkan dan  waktu  yang tidak sebentar pada hakikatnya adalah bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Dengan begitu kita akan belajar bagaimana menghargai jerih payah orang lain.
            Selain itu keberanian pemerintah untuk menertibkan lembaga-lembaga pendidikan yang melanggar peraturan sangat kita nantikan. Dengan begitu hanya orang-orang berkualitas saja yang berhak memperoleh gelar sarjana. Selamat Hari Sarjana Nasional 29 September.
           
           
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar