Kamis, 12 September 2013

Pelajar dan Tembakau



Peringatan hari anti tembakau sedunia yang jatuh pada tanggal 31 Mei mendatang hendaknya dijadikan momentum untuk mencetak generasi muda yang sehat secara jasmani. Hal ini dikarenakan hanya mereka-mereka yang sehat secara fisiklah yang mampu meneruskan perjuangan dalam mengisi pembangunan guna kemakmuran rakyat.  Akan tetapi jika kita melihat realita di lapangan, nampaknya permasalahan masih tingginya angka siswa sekolah yang kecanduan nikotin tidak akan selesai dalam waktu dekat. Sebaliknya, data statistik menunjukkan jumlah remaja yang memilih rokok sebagai “teman setia” nya cenderung mengalami peningkatan.
Data tersebut tercermin dalam riset yang dilakukan oleh Komunitas Anti Rokok Indonesia  (KARI) tahun lalu. Dalam laporannya, KARI menyampaikan bahwa anak sekolah memiliki kecenderungan untuk merokok lebih tinggi daripada orang dewasa. Parahnya lagi, fenomena ini semakin meningkat setiap tahunnya. Selain itu, berdasarkan penelitian tersebut diperoleh fakta bahwa sedikitnya 45 persen pelajar di Indonesia adalah perokok. Hal ini tentu saja mengundang keprihatinan berbagai pihak, khususnya pihak sekolah dan orang tua siswa. Remaja yang sejatinya merupakan generasi penerus bangsa, harus layu sebelum berkembang oleh endapan nikotin yang menggerogoti tubuhnya.
            Tingginya angka siswa sekolah yang menjadi perokok aktif ini sejatinya tak terlepas dari pengaruh produsen rokok yang gencar melakukan promosi. Tayangan iklan rokok yang dikemas dengan tampilan menarik dan kreatif tentu saja dapat mempengaruhi para remaja untuk mencobanya. Setelah itu, sudah bisa dipastikan mereka pun akan ketagihan. Selain itu rajinnya produsen rokok dalam memberikan kontribusi bagi kegiatan-kegiatan disekolah maupun pemberian beasiswa kepada pelajar maupun mahasiswa membuat  kalangan pelajar sulit untuk lepas dari jeratan produsen rokok.
            Banyaknya remaja yang kecanduan merokok tentu saja menjadi masalah serius. Alih-alih menjadi generasi penerus bangsa untuk membangun negara, yang ada malah menjadi beban negara dengan menguras APBN untuk mengobati berbagai gangguan kesehatan yang mereka idap akibat kecanduan merokok. Semua sepakat bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan, namun tidak semua sepakat untuk menanamkan budaya hidup sehat, khususnya di sekolah. Masih adanya guru yang asyik ngelepus di lingkungan sekolah, bahkan didalam kelas adalah contoh fenomena diatas.
            Untuk mengurangi jumlah pelajar yang merokok diperlukan berbagai upaya dan juga kerjasama dari berbagai pihak. Dalam hal ini, sekolah dapat menjadi wahana untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini dengan mengkampanyekan bahaya merokok dimasa depan. Selain itu, keteladanan dari para guru diharapkan akan memberikan dampak positif bagi para siswanya. Tak kalah penting adalah peran orang tua dirumah dalam mengawal nilai-nilai kebaikan yang telah ditanamkan di sekolah. Dengan adanya sinergitas seperti ini diharapkan tercipta generasi penerus yang sehat jiwa dan raganya.( Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 1 Juni 2013 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar