Senin, 16 September 2013

Sertifikasi tanpa Isi



Membaca berita yang berjudul “Hasil Sertifikasi tak Tunjukan Peningkatan Kualitas Guru” (“PR Online”,
            Akan tetapi setelah mereka dinyatakan lulus sertifikasi, kita akan melihat pemandangan yang berbeda. Setelah dinyatakan lulus sertifikasi, semangat untuk mempersembahkan pembelajaran yang baik dikelas seolah tidak tampak lagi. Kebiasaan mengikuti seminar-seminar untuk menambah wawasan pun seakan terlupakan. Bahkan yang lebih parah lagi tidak sedikit para pendidik yang justru sibuk mengurus persyaratan administrasi agar tunjangan berikutnya dapat dicairkan. Akibatnya tidak jarang mereka harus meninggalkan kelas ketika jam belajar masih berlangsung.
            Sejatinya, program sertifikasi guru ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas pendidik yang diharapkan berimplikasi pada peningkatan prestasi akademik siswa. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang berkualitas dari tangan-tangan pendidik yang telah lulus sertifikasi adalah suatu keniscayaan. Apalah artinya selembar kertas sertifikat pendidik kalau pada saat Ujian Nasional saja anak masih harus “disuapi”. Untuk menjaga kualitas tenaga pendidik yang sudah tersertifikasi ada baiknya pemerintah melakukan evaluasi secara berkala.
Adapun Uji Kompetensi Guru (UKG) bukanlah cara yang tepat karena hanya berorientasi pada aspek kognitif pendidik semata dan tidak mencerminkan prestasi peserta didik. Sebaiknya pemerintah melihat langsung output yang dihasilkan oleh pendidik. Hal ini perlu dilakukan karena goal sesungguhnya dari program sertifikasi ini adalah peningkatan prestasi akademik siswa itu sendiri. Dengan begitu, program sertifikasi pendidik tidak hanya dipandang sebagai program untuk menambah “Passive Income” bagi tenaga pendidik semata, namun lebih dari itu program sertifikasi merupakan program untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa Indonesia. (Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 16 Maret 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar