Jumat, 25 Oktober 2013

Bonus Demografi dan Tantangan Kurikulum 2013


Berdasarkan data dari Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional  (BKKBN), pada tahun 2020 sampai dengan 2013 mendatang Indonesia akan memperoleh Bonus Demografi. Istilah Bonus Demografi pada dasarnya menggambarkan suatu kondisi dimana tersedianya jumlah angkatan kerja atau penduduk produktif di suatu negara. Selain itu, suatu negara dapat dikatakan mengalami Bonus Demografi jika rasio angka ketergantungan berada pada titik terendah dengan kata lain jumlah angkatan tidak produktif sangat sedikit.
Dalam rangka ikut memperingati Hari Kependudukan Sedunia yang jatuh pada tanggal 11 Juli yang lalu, Indonesia mengambil tema yang berkenaan dengan remaja atau pemuda. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala BKKBN yang baru yaitu Prof. Fasli Jalal beberapa waktu yang lalu. Dalam pernyataannya beliau juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki jumlah remaja yang sangat tinggi sehingga bisa menjadi aset yang berharga bagi bangsa jika dibina dengan baik. Sebaliknya, potensi tersebut akan sirna bahkan cenderung menjadi beban negara jika tidak diarahkan pada hal-hal yang positif.
Berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 2010, jumlah remaja Indonesia yang berumur 10-24 tahun mencapai 64 juta orang atau sekitar 27,6 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah tersebut tentu saja merupakan potensi yang sangat besar dan harus dikembangkan secara maksimal. Pemerintah hendaknya mempersiapkan golongan remaja tersebut agar mampu menjadi penerus bangsa yang sehat secara jasmani, rohani dan berakhlak mulia.
Tantangan Kurikulum 2013
            Meskipun akan dianugrahi Bonus Demografi, nampaknya pemerintah harus terlebih dahulu menyelesaikan berbagai permasalahan yang dialami remaja saat ini. Pergaulan bebas, tawuran, penyalahgunaan Narkoba dan juga permasalahan lainnya harus segera diatasi jika tidak ingin menjadi beban dimasa yang akan datang. Adapun kurikulum 2013 yang digadang-gadang oleh pemerintah dapat menjawab berbagai tantangan dimasa yang akan datang sejatinya mampu mengatasi berbagai persoalan remaja tersebut karena salah satu alasan disusunnya kurikulum baru tersebut salah satunya adalah untuk memperbaiki moral remaja.
            Kurikulum baru yang akan diterapkan mulai tahun ini tentu akan menjadi ajang pertaruhan apakah kurikulum baru ini sehebat yang didengung-dengungkan oleh pemerintah terutama dalam memperbaiki moral remaja. Memang kurang adil jika menilai bagus atau tidaknya kurikulum hanya dengan melihat perjalanannya selama satu atau dua tahun kedepan. Namun melihat berbagai kekurangan yang ada nampaknya kita tidak bisa terlalu berharap banyak. Pelatihan guru yang terkesan mendadak dan singkat, pendistribusian buku paket ke sekolah-sekolah pada saat Injury Time sampai dengan belum jelasnya konsep evaluasi terhadap proses pembelajaran adalah kendala-kendala yang tentu saja dapat mengakibatkan implementasi kurikulum baru ini menjadi tidak optimal.
            Pada akhirnya kita pun hanya bisa berharap pemerintah mampu mengatasi berbagai kekurangan dalam kurikulum baru tersebut sehingga Bonus Demografi ini benar-benar menjadi berkah yang akan mengangkat harkat dan martabat bangsa ini dimasa depan dan bukan sebaliknya. Mudah-mudahan !.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar