Selasa, 29 Oktober 2013

Dilema Pekerja Anak




Hari Anak Nasional yang diperingati tangal 23 Juli yang lalu nampaknya tidak semeriah tahun – tahun sebelumnya. Hanya segelintir saja yang benar-benar merayakannya dengan berbagai kegiatan seperti lomba melukis, menulis dongeng dan kegiatan-kegiatan lainnya. Bahkan media pun cenderung lebih banyak memberitakan kasus-kasus korupsi dan juga bentrok antara ormas dengan warga dibandingkan mengangkat pemberitaan tentang peringatan hari anak.
            Fenomena tersebut bukanlah hal aneh mengingat tahun 2013 ini adalah paling berat bagi anak maupun orang tua. Kebijakan menaikkan harga BBM yang dilakukan oleh pemerintah beberapa waktu yang lulu cukup memukul perekonomian keluarga khususnya yang kurang mampu. Salah satu alasan pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut adalah karena subsidi yang selama ini diberikan lebih banyak dinikmati oleh orang kaya sehingga subsidi tersebut harus segera dikurangi dan dialihkan.
            Pemerintah pun meyakinkan masyarakat bahwa kenaikan harga BBM akan berdampak positif bagi dunia pendidikan. Salah satu program yang dijalankan oleh pemerintah adalah Program Menengah Universal atau yang dikenal dengan PMU. Melalui program ini setiap siswa SMA / SMK akan mendapatkan bantuan sebesar Rp 1 juta pertahun dan Rp 750 ribu untuk siswa SMP yang disalurkan melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Adapun yang menjadi tujuan jangka panjang program ini adalah untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menegah nasional menjadi  sebesar 97 persen pada tahun 2020  dari angka APK saat ini yang hanya 78,8 persen.
            Namun pada kenyataannya ternyata pemerintah kurang memperhitungkan dampak sosial dari kebijakan menaikkan harga BBM ini. Tingginya harga kebutuhan pokok memaksa orang tua untuk memutar otak agar dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Akhirnya, menyuruh anak berhenti sekolah dan ikut bekerja membantu orang tua pun menjadi pilihan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Alhasil, jumlah pekerja anak pun meningkat seiring dengan makin banyaknya anak yang berhenti sekolah untuk bekerja membantu orang tua. Jika sudah begini, perlahan tapi pasti tunas-tunas bangsa pun harus berguguran.
            Disisi lain ketika anak memutuskan untuk bekerja pun ternyata mendatangkan masalah baru terutama bagi sang majikan. Adanya larangan untuk mempekerjakan anak terutama anak dibawah umur adalah persoalan lain yang harus dihadapi oleh anak maupun orang tua. Akibatnya tak jarang industri rumahan pun harus main “kucing-kucingan” dengan aparat. Situasi seperti ini tentu saja sangat tidak menguntungkan bagi kondisi psikologis anak.
            Melihat kenyataan diatas, sesulit apapun kondisi keluarga seyogyanya orang tua tetap menyekolahkan anaknya karena sekolah adalah tempat yang tepat bagi mereka. Dengan mendukung anak untuk tetap bersekolah, secara tidak langsung orang tua turut berpartisipasi dalam usaha untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa dengan menempatkan pendidikan sebagai investasi untuk masa depan yang lebih baik.
           
           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar