Jumat, 18 Oktober 2013

Fenomena Penulis Bayangan



Bagi guru yang akan mengajukan kenaikan pangkat dan golongan nampaknya harus bersiap-siap. Pasalnya mulai tahun ini penilaian kinerja guru (PKG) sebagai dasar kenaikan pangkat dan jabatan akan diberlakukan. Hal tersebut didasarkan pada Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010  tentang petunjuk teknis pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya serta Permen PAN-RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang kenaikan pangkat dan golongan. Adapun salah satu poin yang cukup krusial dan sempat mengundang pro kontra adalah adanya kewajiban bagi guru untuk membuat karya tulis ilmiah.
Apa yang dilakukan oleh pemerintah ini tak lain adalah untuk meningkatkan budaya literasi dikalangan guru demi mendukung kompetensinya. Namun bagi guru yang belum terbiasa menulis karya ilmiah hal ini tentu bisa menjadi permasalahan serius terutama bagi mereka yang lulus S1 nya tanpa melalui jalur skripsi. Selain itu dengan persyaratan yang dirasakan cukup memberatkan ini dikhawatirkan para guru akan lebih fokus untuk mengurus persyaratan untuk kenaikan pangkat daripada mengurus peserta didik.
            Disisi lain ketidaksiapan guru dalam membuat karya tulis ilmiah akan menempatkan guru pada posisi yang sulit. Dalam hal ini ada dua pilihan yang bisa diambil, tetap mempertahankan pangkat dan golongan yang sekarang atau menggunakan jasa Ghost Writer (Penulis Bayangan) demi memenuhi persyaratan. Namun melihat trend kebutuhan hidup saat ini yang semakin meningkat nampaknya pilihan kedua cenderung akan lebih banyak diambil.
            Fenomena Ghost Writer sebenarnya bukan hal baru. Tidak sedikit dari para tokoh, pejabat maupun politisi yang menggunakan jasa Ghost Writer ini untuk melambungkan namanya.  Dalam dunia pendidikan peran mereka terlihat sangat menonjol khususnya di perguruan tinggi. Adapun jasa yang sering mereka tawarkan adalah membuat skripsi maupun tesis untuk mahasiswa S1 dan S2. Bahkan tak jarang mereka menawarkan jasanya dengan tarif tertentu secara terang-terangan melalui surat kabar cetak maupun online.  
            Adanya kewajiban guru untuk membuat karya tulis ilmiah tentunya makin menyuburkan bisnis “abu-abu” ini. Yang lebih mengkhawatirkan lagi yang paling berpotensi menjadi Ghost Writer adalah kalangan guru sendiri. Hal ini dikarenakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang penulis bayangan adalah mampu menyelami pikiran dan dunia orang yang meminta jasanya, dalam hal ini rekan sesama guru sangat memenuhi kriteria tersebut.
            Saat ini tercatat ribuan bahkan lebih guru-guru yang aktif menulis diberbagai media cetak seperti Forum Guru di Harian umum Pikiran Rakyat maupun menghiasi berbagai situs di dunia maya sepertu Guru Era Baru (Guraru). Tidak mustahil diantara mereka ada yang tergoda untuk “berbagi rezeki” dengan guru PNS yang ingin menaikkan pangkat atau golongannya.
Menyikapi fenomena tersebut penulis menghimbau para guru untuk menjadikan PKG sebagai sarana untuk meningkatkan budaya literasi dikalangan pendidik untuk mendukung kompetensinya dan bukan untuk meraih tujuan dengan cara instant. Dengan begitu pada akhirnya tunjangan profesi yang diterima pendidik sebagai konsekwensi logis dari kenaikan pangkat dan golongan akan berimplikasi positf pada peningkatan prestasi akademik siswa. ( Dimuat di Harian Umum Pkiran Rakyat, 18 Oktober 2013 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar