Rabu, 23 Oktober 2013

Generasi Emas Bebas Narkoba




Fenomena meningkatnya jumlah remaja pengguna Narkoba nampaknya harus menjadi perhatian kita bersama. Hal ini dikarenakan peredaran dan penggunaan narkoba secara luas tentu akan merusak tatanan sosial, politik dan ekonomi masyarakat. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), pada tahun 2011 tercatat jumlah pengguna narkoba di Indonesia sebesar 1,99 persen atau sekitar 3,3 juta jiwa. Jumlah tersebut cenderung meningkat setiap tahunnya dimana untuk tahun 2012 terjadi peningkatan sampai dengan 2,2 persen atau setara dengan 3,8 juta jiwa dan untuk tahun 2013 diprediksi akan menembus angka 2,6 persen. Adapun untuk provinsi Jawa Barat, jumlah pengguna yang tercatat sampai saat ini adalah sebanyak 2,4 persen atau sekitar 757.000 jiwa.  
Banyaknya jumlah pengguna narkoba ini tentu saja akan menjadi permasalahan serius jika penanganannya masih bersifat konvensional. Diperlukan lompatan-lompatan dan juga terobosan untuk mengurangi jumlah pecandu narkoba daripada hanya sekedar mengadakan penyuluhan maupun penyampaian pesan melalui iklan layanan masyarakat. Hal ini dikarenakan peredaran narkoba sudah merambah ke berbagai kalangan dan lapisan dalam masyarakat. Naasnya lagi, sebagian besar pecandu narkoba tersebut adalah mereka yang termasuk kedalam golongan remaja usia produktif yang masih duduk dibangku sekolah maupun bangku kuliah.
Selain itu, peredaran narkoba saat ini bukan lagi semata-mata persoalan bisnis, melainkan didesign untuk memutus mata rantai generasi muda kita agar negara kita tidak memiliki generasi penerus yang kuat. Pada akhirnya pihak asinglah yang akan kembali memperbudak bangsa kita. Untuk itu diperlukan upaya-upaya pencegahan secara maksimal untuk mengantisipasi pengguna baru disamping penanganan yang konsisten bagi mereka yang terlanjur menjadi pengguna narkoba.
Pendidikan dalam keluarga nampaknya menjadi usaha yang paling utama dalam memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang pentingnya menjalankan pola hidup sehat tanpa narkoba. Upaya ini diperlukan karena orang tualah yang berperan besar dalam menentukan kepribadian anak disamping lingkungan sekitar. Selain itu, keharmonisan keluarga tentu akan sangat berpengaruh terhadap jumlah peningkatan pengguna narkoba karena faktanya tidak sedikit dari pengguna narkoba tersebut berasal dari keluarga yang broken home.
Adapun pihak sekolah sesungguhnya memiliki kewajiban moral untuk memberikan pemahaman yang baik kepada para peserta didiknya akan bahaya narkoba. Slogan kampanye “Sekolah Bebas Rokok dan Miras” mungkin bisa menjadi langkah awal dalam upaya tersebut mengingat rokok dan minuman keras ternyata menjadi pintu gerbang bagi para siswa untuk kemudian menjadi pengguna narkoba. Selain itu, kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstrakurikuler akan sangat membantu para siswa dalam menyalurkan energinya dan dalam waktu yang bersamaan menjauhkan mereka dari Narkoba.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan peringatan Hari Anti Narkotika Sedunia yang jatuh pada tanggal 26 Juni yang lalu sebagai momentum untuk menciptakan generasi unggul bebas narkoba. Dengan adanya sinergi antara keluarga dan pihak sekolah, diharapkan generasi emas yang selama ini dicita-citakan dapat segera terwujud.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar