Senin, 28 Oktober 2013

Menumbuhkan (Kembali) Semangat Sumpah Pemuda




Menyimak berita tentang derita para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja diluar negeri sekan tak ada habisnya. Mulai dari kabar penganiayaan  fisik oleh pihak majikan, gaji yang tidak dibayarkan sampai dengan ancaman hukuman gantung sering kali menghiasi layar televisi kita. Celakanya lagi, berita-berita tersebut tak sedikit pun menyurutkan langkah para calon TKI lainnya untuk mencari peruntungan dinegeri orang meski dengan bekal seadanya. Adapun masih rendahnya tingkat pendidikan disinyalir sebagai sebab utama yang menjadikan negara ini hanya mampu menyediakan tenaga-tenaga kerja untuk ditempatkan disektor-sektor non formal diluar negeri.
Jika kita kaji lebih dalam lagi, semangat sumpah pemuda yang diikrarkan oleh putra-putra terbaik bangsa ini beberapa puluh tahun yang lalu tersebut ternyata baru mampu sebatas melepaskan bangsa ini dari rantai-rantai penjajah bangsa asing, namun belum bisa membebaskan bangsa ini dari belengu-belenggu kebodohan. Lebih memprihatinkan lagi, kebodohan tersebut tak jarang dipelihara oleh pihak tertentu untuk kepentingannya.
Disaat anak-anak seusia sekolah dasar harus bertaruh nyawa untuk dapat menginjakkan kakinya di sekolah dengan melewati jembatan yang dibuat alakadarnya, digarasi sang pejabat terpampang beberapa buah mobil mewah. Sungguh sebuah ironi. Kemerdekaan bangsa Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 agustus 1945 silam ternyata baru sebatas pernyataan sikap bahwa bangsa ini adalah bangsa yang merdeka dari penjajahan bangsa kulit putih, namun tidak untuk penjajah berambut hitam.  
Berdasarkan data dari UNESCO per 8 September lalu, saat ini terdapat 774 juta orang diseluruh dunia yang buta aksara dimana 6,4 juta orang adalah warga negara Indonesia.  Angka tersebut tentu saja tidak bisa dikatakan kecil. Peningkatan anggaran untuk bidang pendidikan ternyata belum mampu meningkatkan pemerataan kualitas dan pemerataan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan.
Menyikapi kondisi semacam ini dibutuhkan semangat yang tinggi untuk membangun bangsa ini  sebagaimana diikrarkan oleh para pendahulu kita dalam sumpah pemuda. Semangat yang mampu mengantarkan bangsa ini sampai pada pintu gerbang kemerdekaan tersebut hendaknya kita tiru dengan cara melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, salah satunya melalui pendidikan.
Pendidikan sejatinya merupakan senjata paling ampuh untuk menghadapi berbagai tantangan yang mungkin datang dari luar melalui berbagai saluran. Ekonomi, politik, sosial dan budaya adalah saluran-saluran dimana bangsa lain terbiasa menanamkan pengaruhnya. Dengan mempersiapkan generasi yang siap menghadapi berbagai tantangan tersebut, bisa dipastikan dimasa depan kita akan mampu berdiri tegak ditengah percaturan dunia yang semakin hari semakin penuh tantangan. Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar