Rabu, 02 Oktober 2013

Pancasila, Dulu dan Kini



Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Oktober kemarin hendaknya dijadikan momentum untuk menggelorakan kembali semangat dalam mengamalkan nilai-nilai pancasila yang saat ini mulai luntur. Jika dahulu yang menjadi musuh utama pancasila adalah idiologi komunis, kini idiologi korupsi seolah menjadi command enemy yang sudah merambah keberbagai lini kehidupan dan karenanya harus kita lawan bersama-sama. Hal ini disebabkan ekses yang ditimbulkan dari perbuatan korupsi ini jauh lebih dahsyat dari kejahatan lainnya seperti terorisme.
            Saat ini korupsi seolah menjadi wabah yang merasuk ke berbagai golongan dan lembaga. Mulai dari partai politik, lembaga eksekutif, legislatif bahkan lembaga yudikatif tak luput dari penyakit yang satu ini. Adanya parpol atau kelompok tertentu yang mengaku dirinya paling pancasilais dan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI namun ternyata kader-kadernya banyak yang menjadi tahanan KPK membuktikan bahwa saat ini Pancasila hanya digunakan sebagai kosmetik poltik belaka.
            Disisi lain pendidikan karakter yang selama ini digembar-gemborkan oleh pemerintah melalui sekolah-sekolah  makin memperlihatkan arah yang tidak jelas, bahkan jauh dari nilai-nilai luhur Pancasila yang menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama. Disaat lomba MTQ digelar untuk menanamkan rasa persaudaraan dan meningkatkan ketaqwaan, disaat yang sama kontes pamer aurat sejagat digelar untuk memenuhi keinginan sponsor sekalipun hal tersebut bertentangan dengan adat ketimuran.
            Selain itu nilai-nilai kejujuran yang ditanamkan selama bertahuh-tahun disekolah akhirnya luluh lantah manakala Ujian Naional (yang tidak jujur) tiba. Anak ditempatkan dalam satu kondisi yang dilematis dimana dia harus memilih antara kejujuran atau “keselamatan”. Sekolah pada akhirnya dijadikan ajang pertaruhan gengsi antar kepala daerah dengan mengorbankan masa depan peserta didik.
            Melihat gambaran diatas tidak ada pilihan bagi kita sebagai pendidik selain menanamkan kembali nilai-nilai pancasila kepada anak-anak kita. Dimulai dengan memberikan teladan berupa datang ke sekolah tepat waktu sampai dengan mengajak siswa untuk melaksanakan UN dengan penuh kejujuran. Memang tidak mudah melaksanakan semua itu, namun setiap tujuan pastilah membutuhkan perjuangan dan setiap perjuangan tentu membutuhkan pengorbanan.
            Dengan adanya berbagai usaha tersebut kita berharap nilai-nilai luhur pancasila benar-benar tertanam pada anak-anak kita yang pada akhirnya menjiwai setiap langkah mereka dalam setiap aktivitas.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar