Sabtu, 09 November 2013

Menggagas Sekolah Bebas (Industri) Rokok



Salah satu masalah besar yang dialami oleh bangsa ini adalah tingginya jumlah remaja yang menjadi pecandu rokok. Berdasarkan data yang diperoleh dari Komunitas Anti Rokok Indonesia (KARI) saat ini terdapat sekitar 45 persen pelajar Indonesia yang telah menjadikan rokok sebagai teman setianya. Parahnya lagi, pelajar tersebut mengaku sudah mulai merokok sejak usia 9 - 13 tahun. Fakta ini tentu saja membuat kita prihatin. Remaja yang sejatinya merupakan generasi penerus bangsa harus mati perlahan dalam pelukan tembakau.
            Menurut data yang dipublikasikan oleh WHO, sedikitnya 4 juta orang didunia meninggal setiap tahunnya akibat dari menghisap rokok. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring bertambahnya jumlah pecandu rokok setiap tahunnya. Adapun penyebab semakin bertambahnya jumlah remaja Indonesia yang merokok adalah karena gencarnya iklan yang dilakukan oleh produsen rokok. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), sekitar 91,7 persen remaja yang berusia 13 -15 tahun mulai merokok karena pengaruh iklan rokok di berbagai media. 
            Memang tak bisa dipungkiri bahwa hampir semua iklan rokok selalu dikemas dalam bentuk tayangan visual yang menarik dan kreatif. Selain itu, rajinnya produsen rokok dalam menggelar berbagai event yang menarik disekolah-sekolah dan dikampus-kampus mengakibatkan para remaja menjadi familiar dengan rokok. Tak hanya itu, seringnya produsen rokok menjadi sponsor kegiatan yang dilakukan oleh sekolah sampai dengan pemberian beasiswa dalam jumlah yang tidak sedikit mengakibatkan remaja sulit untuk keluar dari jeratan produsen rokok. Memang sebuah ironi, kegiatan-kegiatan di sekolah yang jelas-jelas berorientasi pada nilai-nilai pendidikan harus didanai oleh perusahan-perusahaan rokok dikarenakan minimnya partisipasi perusahaan yang lain.
            Berdasarkan fakta diatas, tak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak bergerak cepat melakukan upaya-upaya untuk mengurangi jumlah pecandu rokok. Bagaimanapun juga, tingginya angka pecandu rokok akan membebani anggaran negara untuk kesehatan karena sebagian besar perokok biasanya mengalami berbagai gangguan kesehatan. Kita tentu tidak ingin melihat generasi muda yang merupakan penerus tongkat kepemimpinan bangsa ini justru menjadi beban bagi negara dan juga masyarakat.
            Adapun untuk konteks sekolah, kampanye dini tentang bahaya merokok merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Selain itu, diperlukan keteladanan dari para pendidik dalam menjalankan hidup sehat dengan cara tidak merokok didalam lingkungan sekolah (jika anda seorang perokok). Dengan adanya upaya-upaya tersebut diharapkan tercipta lingkungan sekolah yang sehat tanpa asap tembakau. Pada akhirnya sekolah pun mampu mencetak insan-insan unggul yang memiliki kompetensi tertentu dan sehat secara jasmani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar