Rabu, 13 November 2013

T I K Tanpa E T I K A



Kasus beredarnya viedo asusila yang diperankan oleh siswa salah satu SMP di Jakarta dan sempat membuat gerah Diknas setempat sudah selayaknya menjadi perhatian kita bersama. Kasus semacam ini tentunya bukan kasus yang pertama kali. Sebelumnya pernah beredar pula adegan panas yang diperankan oleh siswa SMU maupun oleh mahasiswa. Kecanggihan teknologi informasi saat ini memungkinkan berbagai informasi digital  menyebar sangat cepat dan dapat dengan mudah diakses oleh siapapun.
            Fenomena penyalahgunaan TIK ini tentunya tak terlepas dari belum optimalnya peran guru TIK dalam menyampaikan materi TIK secara keseluruhan. Berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi penulis dengan guru-guru yang tergabung dalam komunitas Guru Era Baru (Guraru), kebanyakan guru TIK hanya berfokus pada materi yang bersifat keterampilan teknis dan jarang sekali menyentuh persoalan etika. Akibatnya TIK menjadi teknologi bebas nilai yang bisa digunakan untuk keperluan apapun sekalipun itu bertentangan dengan norma sosial, agama maupun norma hukum.
            Hal tersebut diperparah dengan lemahnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gadget oleh anak mereka dan aktivitasnya didunia maya. Masalah tak sampai disitu, kurikulum 2013 yang secara otomatis menghapus pelajaran TIK menjadi persoalan tersendiri bagi dunia pendidikan. Materi-materi yang berkaitan dengan etika dalam TIK seperti Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), Cyber Law, Cyber Bullyng dan lainnya  tidak diperoleh oleh siswa dibangku sekolah. Alhasil, siswa pun menjadi seenaknya dalam menggunakan teknologi informasi yang sejatinya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat ini. Selain kasus-kasus asusila, fenomena pembajakan perangkat lunak berlisensi pun nampaknya masih akan terus menjadi momok yang entah kapan dapat diselesaikan.
              Untuk mengatasi persoalan tersebut ada beberapa upaya yang dapat dilakukan. Pertama, bagi guru TIK hendaknya tidak hanya mengajarkan keterampilan semata kepada para siswa namun juga mampu mengarahkan siswa agar menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki untuk hal-hal yang bersifat positif. Dalam hal ini materi tentang etika dan hukum mutlak diberikan.
            Kedua, dampak dihapuskannya pelajaran TIK dalam kurikulum baru hendaknya menjadi salah satu poin evaluasi yang saat ini tengah dilakukan oleh pemerintah.  Dalam hal ini diperlukan kejujuran dan sikap lapang dada dari pemerintah dalam menyampaikan hasil evaluasinya secara objektif. Jika ternyata pelajaran TIK dianggap masih diperlukan, tak ada alasan bagi sekolah untuk tidak mengajarkan pelajaran TIK.
            Ketiga, pengawasan orang tua terhadap penggunaan gadget anak maupun aktivitasnya didunia maya mutlak dilakukan. Hal ini karena sebagian besar waktu anak dihabiskan dirumah bersama keluarga maupun teman sepermainannya. Dengan berbagai upaya tersebut kita berharap TIK dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sehingga dimasa yang akan datang penyalahgunaan teknologi ini secara bertahap dapat dikurangi.  
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar