Selasa, 03 Desember 2013

Budaya Literasi Dikalangan Akademisi




Berita di halaman depan harian umum Pikiran Rakyat yang berjudul “Lebih Dari 100 Dosen Tertangkap Plagiat” (3 Oktober 2013) seolah memberikan alasan bagi kita untuk mempertanyakan (kembali) kapabilitas dan integritas para akademisi di Indonesia. Laporan tersebut menyebutkan bahwa dalam setahun terakhir lebih dari 100 dosen setingkat lektor, lektor kepala dan guru besar diketahui melakukan plagiarisme atau penjiplakan karya ilmiah.
Kabar tersebut tentu saja membuat kita sangat prihatin. Pergururuan tinggi yang identik dengan golongan intelek dan sejatinya menjadi garda terdepan dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas harus tercoreng oleh perbuatan segelintir oknum yang ingin mencapai tujuannya dengan cara-cara instant.
Fenomena plagiat dikalangan akademisi ini sejatinya tak dapat dilepaskan dari rendahnya budaya literasi dikalangan akademisi itu sendiri. Berdasarkan data dari Scientific Journal Rankings (SJR), publikasi ilmiah perguruan tinggi Indonesia menempati peringkat 64 dibawah Malaysia yang berada pada urutan 43. Selain itu Indonesia pun masih kalah jauh dibandingkan dengan Singapura yang menduduki perangkat 32 dan Thailand yang berada di peringkat 42. Indonesia hanya lebih baik dari Philipina yang menempati peringkat 70.
Hal ini tentu saja menjadi sebuah ironi ditengah melimpahnya perguruan tinggi dan pendidik yang dimiliki oleh Indonesia. Sebagai informasi saat ini tercatat tidak kurang dari 270 ribu dosen dimana sekitar 24 ribu di antaranya sudah bergelar doktor dan tersebar di 3.017 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut tentu saja sangat fantastis bila dibandingkan dengan jumlah perguruan tinggi dan akademisi di Malaysia yang tidak mencapai setengahnya.
Untuk meningkatkan budaya menulis dikalangan akademisi pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran No. 152/E/T/2012 yang mewajibkan mahasiswa yang akan lulus (S1, S2, S3) untuk mempublikasikan karya tulisnya di jurnal ilmiah. Dengan begitu mau tidak mau setiap mahasiswa harus membuat satu buah karya ilmiah jika ingin memperoleh gelar tertentu.
Kebijakan tersebut nampaknya memberikan pengaruh positif. Dalam setahun terakhir jumlah karya ilmiah yang dipublikasikan memang mengalami peningkatan sekitar 3000 an (dikti.go.id). Meskipun demikian jumlah tersebut masih belum sesuai harapan mengingat masih banyaknya potensi yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang ada.
Meskipun demikian yang jauh lebih penting adalah mental dari para akademisi itu sendiri untuk senatiasa berbuat jujur dan menjadikan budaya literasi sebagai ciri khas yang membedakan dirinya dengan profesi lainnya. Mudah-mudahan slogan dari para akademisi di Eropa yang berbunyi all the scientist are the same until they write a book (semua akademisi adalah sejajar, hingga dia menulis sebuah buku) bisa memberikan motivasi bagi para akademisi di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar