Kamis, 05 Desember 2013

Generasi Emas Ditengah Lautan Miras



Headline harian umum Republika edisi 20 Juni 2013 yang berjudul “Perketat Penjualan Miras” sudah selayaknya menjadi perhatian kita bersama. Berdasarkan laporan yang dihimpun oleh Gerakan Nasional Anti Miras (Genam) tercatat sedikitnya 50 orang meninggal setiap harinya akibat mengonsumsi minuman keras. Parahnya lagi sebagian besar korban adalah mereka yang tergolong pada usia produktif seperti kalangan pelajar dan mahasiswa.
            Tingginya jumlah remaja yang menjadi konsumen setia miras ini tentu saja sangat membahayakan masa depan bangsa. Remaja yang sejatinya adalah para calon pemimpin bangsa dimasa yang akan datang harus layu sebelum berkembang dalam pelukan botol minuman keras. Tingginya jumlah korban tersebut antara lain disebabkan oleh maraknya peredaran miras yang makin hari makin tak terkendali.
            Berdasarkan data dari Kementrian Perdagangan, import minuman keras meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2007, import miras tercatat sebanyak 28.690 karton. Jumlah ini meningkat pada tahun 2008 menjadi 143.668 Karton dan pada tahun 2009 menjadi 279.052 karton. Kemudian pada dua tahun terakhir jumlah tersebut meningkat menjadi dua kali lipat. Jumlah tersebut tentu saja belum termasuk jumlah miras hasil selundupan maupun miras oplosan.
            Selain itu lemahnya pengawasan dan tidak adanya sanksi pidana yang tegas bagi penjual miras yang melanggar peraturan menyebabkan siapa saja dapat dengan mudah membeli barang haram tersebut. Disisi lain keputusan Mahkamah Agung yang memberikan keleluasaan kepada para kepala daerah untuk membuat Perda yang mengatur peredaran miras ini ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik oleh para kepala daerah. Kekhawatiran akan berkurangnya pendapatan daerah akibat menurunnya jumlah wisatawan jika peredaran miras diperketat seolah menjadi alasan bagi kepala daerah untuk tetap memberikan “kelonggaran” kepada penjual miras.
            Pemerintah daerah seolah menutup mata terhadap dampak sosial peredaran miras dikalangan remaja. Maraknya fenomona tawuran antar pelajar dan kekerasan yang dilakukan oleh geng motor sejatinya tak dapat dilepaskan dari pengaruh minuman keras. Jika sudah begini tingginya pendapatan daerah tentu tidak sebanding dengan dampak sosial yang ditimbulkan.
            Untuk mengurangi dampak yang lebih luas diperlukan usaha yang serius dan kerjasama dari semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemda dan masyarakat. Rancangan undang-undang miras yang saat ini tengah digodog oleh DPR diharapkan mampu menekan peredaran miras di masyarakat. Selain itu peran serta masyarakat dalam memgawal setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintaha daerah sejatinya mampu menghasilkan kebijakan-kebijakan yang melindungi warganya.
            Akan tetapi yang jauh lebih penting adalah peran orang tua dalam menjaga anak-anaknya karena keluarga merupakan benteng pertahanan yang paling utama dalam menjaga keselamatan anggotanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar