Kamis, 26 Desember 2013

Ihwal Penyakit Rabun Membaca



Rendahnya minat membaca dikalangan masyarakat kita seakan menjadi pekerjaan rumah yang hingga kini belum terselesaikan, bahkan semenjak Indonesia merdeka. Itulah yang diungkapkan oleh budayawan sekaligus sastrawan Taufiq Ismail ketika mengisi diskusi bertemakan “Buku dan Karakter Bangsa” yang diadakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu. Minimnya budaya membaca ini tentunya sangat berpengaruh terhadap budaya menulis yang hasilnya juga kurang menggembirakan. Tak hanya itu, kasus plagiat dikalangan dosen dan akademisi yang pernah mencuat beberapa waktu yang lalu disinyalir sebagai akibat dari rendahnya budaya membaca dikalangan mereka.
Berdasarkan data dari UNESCO pada tahun 2012, indeks membaca orang Indonesia hanya sebesar 0,001. Artinya satu buku dibaca oleh seribu orang Indonesia. Berbeda dengan Singapura dan Hongkong dimana seribu orang membaca sedikitnya 550 buku. Sungguh mengharukan !. Di Indonesia buku tak lagi menjadi teman setia pelajar masa kini. Budaya membaca, menulis dan berdiskusi tak lagi menjadi ciri khas pelajar yang konon sering disebut sebagai generasi penerus bangsa ini. Remaja kita ternyata lebih sering menghabiskan waktu didepan televisi maupun didepan laptop untuk menyaksikan acara kesayangan mereka maupun bercengkarama dengan teman sejawatnya melalui media sosial.
Disisi lain, sikap orang tua yang cenderung acuh tak acuh dan sibuk dengan urusannya sendiri semakin menjauhkan anak dari dunia membaca. Padahal buku sejatinya merupakan jendela dunia yang akan mengajak mereka untuk mengenal berbagai ilmu pengetahuan. Menjauhkan anak dari buku, sama saja dengan menjauhkan orang buta dari tongkatnya.
Budaya membaca dikalangan masayarakat tidak datang begitu saja. Kebiasaan membaca perlu ditanamkan dan dipupuk sejak dini. Bahkan dalam kondisi tertentu pemaksaan perlu dilakukan. Hal ini pulalah yang dilakukan oleh pemerintah Rusia. Disana seorang anak diwajibkan membaca sedikitnya 14 buku dalam setahun. Sedangkan di Indonesia, kita masih menjumpai anak yang hanya membaca satu buku dalam setahun.
Untuk membangkitkan budaya membaca khususnya dikalangan pelajar dan mahasiswa, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak. Sekolah yang merupakan rumah kedua bagi anak hendaknya mampu menciptakan lingkungan yang mampu mendorong minat anak untuk membaca. Membuat perpustakaan kelas dan mewajibkan anak untuk membaca minimal satu buku dalam sebulan bisa menjadi langkah awal membangun budaya membaca.
Adapun pemerintah yang berperan sebagai regulator hendaknya mampu untuk “memaksa” media agar mengurangi tayangan-tayangan yang kurang bermanfaat bagi anak. Sebaliknya media hendaknya mampu menjadi media kampanye dalam mendorong terciptanya budaya membaca dikalangan masyarakat.
Namun yang jauh lebih penting adalah peran orang tua dirumah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung anak agar mau membaca. Menyediakan buku-buku yang sesuai merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua. Faktor-faktor yang dapat mengganggu proses belajar anak seperti televisi  sebisa mungkin dijauhkan dari anak.  Dengan adanya sinergi semacam ini kita berharap budaya membaca yang merupakan ciri khas pelajar dapat kembali melekat. Semoga. (Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 26 Desember 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar