Kamis, 12 Desember 2013

Pentingnya Pendidikan Kesehatan Reproduksi



Kurangnya pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi menimbulkan masalah tersendiri  dalam proses “peralihan” yang tengah mereka jalani. Adapun anggapan sebagian besar masyarakat kita bahwa tema seperti ini tabu untuk dibicarakan mengakibatkan remaja tidak dapat memperoleh informasi yang benar dan utuh tentang bagaimana cara menjaga kesehatan organ reproduksi mereka. Akibatnya remaja pun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan saat terjadi “perubahan” dalam dirinya.
            Pada dasarnya ada tiga institusi yang mempengaruhi pribadi dan perilaku remaja, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga institusi ini tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya karena masing-masing memiliki peran yang sangat strategis. Sayangnya sebagian besar orang tua masih menganggap tema semacam ini tabu untuk dibicarakan.
 Adapun sekolah dimana remaja seharusnya mendapatkan pengetahuan yang cukup tentang materi ini ternyata belum mampu memberikan porsi yang memadai. Pendidikan kesehatan reproduksi yang sering kali diidentikkan dengan pendidikan seks membuat sekolah merasa sudah melaksanakan kewajibannya dalam memberikan pengetahuan kepada siswa. Padahal pendidikan seks hanyalah bagian kecil dari pendidikan kesehatan reproduksi. Ada banyak organ reproduksi lain yang perlu diketahui oleh remaja dan bagimana cara menjaganya.
Disisi lain sikap Kemdikbud yang “enggan” menjadikan kesehatan reproduksi sebagai mata pelajaran khusus dan memasukkannya kedalam kurikulum sekolah menjadikan remaja semakin “buta” dalam memahami perubahan yang terjadi pada dirinya. Adapun yang menjadi kekhawatiran Kemdikbud jika materi tentang kesehatan reproduksi ini disampaikan dikelas adalah terjadinya bias dalam bahasa yang digunakan ketika menyampaikan materi ini kepada para siswa. Tak heran proses penyampaian materi ini pun masih menjadi perdebatan hingga saat ini.
   Disaat orang tua dan guru “belum mampu” memberikan informasi yang benar tentang tema ini, akhirnya remaja pun memilih teman sejawatnya untuk diajak berdiskusi. Sayangnya, bukan informasi  yang benar mereka dapatkan namun doktrin-doktrin menyesatkan yang mereka terima. Akibatnya tidak sedikit remaja yang melakukan perilaku menyimpang dan tak jarang keluarga pun pada akhirnya harus ikut menanggung malu.
Untuk mengurangi “kegalauan” para remaja ini, beberapa upaya dapat dilakukan oleh pihak sekolah. Pendidikan kesehatan reproduksi yang dikemas dalam bentuk seminar dengan mengundang pakar maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memang concern dibidang ini bisa menjadi alternatif ditengah terbatasnya “akses” untuk mendapatkan pengetahuan tentang tema ini.
Meskipun demikian yang jauh lebih penting adalah peran orang tua yang berfungsi sebagai “penunjuk jalan” disaat remaja berada dipersimpangan jalan. Dengan adanya sinergi antara sekolah dan orang tua, kita berharap kedepan akan tumbuh tunas-tunas bangsa yang berkualitas dan sehat secara jasmani.(Dimuat di Harian Umum Republika, 12 Desember 2013)

           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar