Selasa, 28 Januari 2014

Antara Pendidikan dan Penyadapan



Kasus penyadapan terhadap presiden RI dan pejabat lainnya yang dilakukan oleh pihak intelejen Australia mengundang reaksi keras dari berbagai kalangan. Usulan untuk memutus hubungan diplomatik pun kencang disuarakan  untuk menyikapi perbuatan yang dianggap telah menginjak-nginjak kedaulatan bangsa Indonesia tersebut. Hal ini memang wajar mengingat selama ini Australia lah yang lebih banyak diuntungan dari adanya hubungan bilateral antara kedua negara.
            Penyadapan yang dilakukan oleh Australia tentunya bukan tanpa maksud. Kepentingan politik dan ekonomi disinyalir sebagai tujuan utama dibalik operasi yang disebut oleh PM Australia sebagai upaya pertahanan negara dalam “memerangi terorisme” ini.  Maklum saja dengan jumlah penduduk yang begitu banyak dan kekayaan alam yang sangat melimpah, Indonesia sangat strategis untuk dijadikan “mitra”.
            Dalam pandangan penulis, tidak ada yang istimewa dalam kasus penyadapan tersebut. Terlebih yang mengungkap kasus ini adalah pihak luar, bukan lembaga intelijen milik pemerintah Indonesia. Kecanggihan teknologi dan sumber daya manusia berkualitas yang dimiliki oleh negara lain seharusnya menjadi cermin sekaligus evaluasi bagi kita untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai gangguan dari pihak luar yang bisa datang sewaktu-waktu.
            Adapun pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya membuat benteng pertahanan negara tersebut. Menghasilkan lulusan yang berkualitas dan melakukan riset secara berkesinambungan merupakan harga mati bagi setiap lembaga pendidikan dalam menghadapi persaingan global yang semakin “berdarah-darah” seperti saat ini. Kesiapan SDM dan kecanggihan teknologi yang kita miliki tentu akan membuat pihak luar berpikir dua kali untuk “mengobok-ngobok” urusan rumah tangga negara kita.
            Untuk menghasilkan SDM yang berkualitas tersebut diperlukan sinergi antara pihak lembaga pendidikan dengan pemerintah. Pendidik yang merupakan ujung tombak dalam mencetak insan-insan yang memiliki kompetensi menjadi tumpuan kita dalam menyiapkan “prajurit” untuk ditempatkan digarda terdepan, terlebih jika pendidik tersebut telah menyandang “gelar” guru sertifikasi atau guru besar.
            Disamping itu kita pun berharap agar pemerintah tidak ragu untuk berinvestasi dalam bidang pendidikan dalam bentuk pelatihan-pelatihan bagi tenaga pendidik secara berkelanjutan disamping penyediaan sarana pendidikan yang memadai. Hal ini dikarenakan kualitas pendidik dan tersedianya sarana pendidikan akan sangat berpengaruh terhadap kulaitas lulusan dan hasil karya yang dihasilkan.
            Dengan menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, kita berharap kedepan bangsa Indonesia mampu melindungi dirinya sendiri dari gangguan pihak luar tanpa menyalahkan pihak lain maupun berkoar-koar di media sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar