Jumat, 31 Januari 2014

Guru Sebagai Aktivis Peradaban



Ada yang menarik pada acara peringatan Hagi Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November yang lalu. Dalam sambutannya, gubernur Jawa Barat Ahmad Heyawan menyampaikan bahwa guru memegang peranan penting dalam membangun sebuah peradaban.  Artinya, kualitas kinerja pendidik  saat ini akan sangat menentukan kehidupan bangsa dimasa yang akan datang.
 Bagi seorang pendidik yang memiliki visi jauh kedepan, pekerjaan sebagai guru tidaklah sebatas pada mengajarkan mata pelajaran yang diampuh demi mencerdaskan bangsa. Lebih dari itu, menjalankan tugas sebagai seorang pendidik sejatinya merupakan upaya dalam rangka membangun sebuah peradaban dunia yanag akan membawa manusia dari dunia kegelapan kedalam dunia yang penuh dengan cahaya kebaikan.   Adapun lembaga pendidikan yang bernama sekolah pada dasarnya adalah suatu tempat dimana peradaban tersebut dimulai.
            Adapun untuk membangun sebuah peradaban tersebut tentunya diperlukan orang-orang yang beradab. Tipe pendidik profesional yang juga memiliki kesabaran, keikhlasan dan keuletan adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan yang mempunyai visi untuk membangun peradaban.  Bagi mereka kecilnya nilai rupiah yang diperoleh dari lembaga tak sedikit pun mengurangi semangat dan langkah mereka untuk senantiasa mengambil peran dalam upaya memajukan bangsa.
            Namun sayangnya masih ada sebagian diantara kita yang menganggap tugas guru hanya sebatas mengajar dikelas agar anak mendapatkan nilai akademik yang baik. Bahkan tak sedikit pula diantara kita yang melakukan pekerjaan sebagai pendidik dengan berorientasi pada materi semata seolah lembagalah satu-satunya pihak yang harus memenuhi semua kebutuhan kita.
 Kondisi ini diperparah dengan adanya kebijakan pemerintah yang menjadikan Ujian Nasional sebagai salah satu penentu kelulusan siswa. Hal tersebut tentu saja menimbulkan pergeseran orientasi pembelajaran yang selama ini diterapkan disekolah. Pendidikan yang sejatinya bertujuan untuk “memanusiakan manusia” berubah menjadi pendidikan yang “mendewakan” angka-angka.
            Akibatnya lembaga pendidikan hanya berfungsi sebagai tempat untuk mencetak pribadi-pribadi yang memiliki kompetensi tertentu namun tidak memahami hakikat kehidupan. Bahkan tak jarang sekolah dijadikan tempat awal yang mengajarkan kepada para peserta didiknya untuk melakukan korupsi jika mereka mau selamat dalam kehidupan sehari-hari. Ujian Nasional yang digelar setiap tahun adalah ajang pembuktian bahwa fenomena tersebut benar adanya. Adanya oknum guru yang berperan sebagai “Tim Sukses” pada saat UN berlangsung makin menunjukkan fakta bahwa tujuan pendidikan yang dicita-citakan selama ini makin jauh dari harapan.
            Berdasarkan hal tersebut, sebagai seorang pendidik sudah saatnya kita mengubah paradigma tentang tujuan pembelajaran yang kita lakukan selama ini. Marilah kita jadikan aktivitas keseharian kita dalam mendidik anak sebagai bagian dari upaya untuk membangun sebuah peradaban baru yang mampu menyebarkan nilai-nilai kebaikan untuk masa kini dan masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar