Sabtu, 04 Januari 2014

Media dan Lunturnya Budaya Literasi Dikalangan Pelajar



Mengharapkan media memberikan tayangan yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat saat ini ibarat mengharapkan matahari terbit dari barat. Tayangan televisi yang didominasi oleh tayangan-tayangan hiburan seolah menjadi candu bagi masyarakat khususnya kalangan pelajar yang sedang dalam proses tumbuh kembang. Berbagai stasiun televisi seolah berlomba untuk menampilkan berbagai acara dengan rating yang tinggi demi mendapatkan “simpati” dari pihak sponsor sekalipun acara tersebut sama sekali tidak mendidik, bahkan cenderung menjerumuskan.
            Buku-buku pelajaran tak lagi menjadi teman setia pelajar masa kini. Budaya membaca, menulis dan berdiskusi tak lagi menjadi ciri khas pelajar yang konon sering disebut sebagai generasi penerus bangsa ini. Berdasarkan data dari UNESCO pada tahun 2012, indeks membaca orang Indonesia hanya sebesar 0,001. Artinya satu buku dibaca oleh seribu orang Indonesia. Berbeda dengan Singapura dan Hongkong dimana seribu orang membaca sedikitnya 550 buku.   
Remaja kita ternyata lebih sering menghabiskan waktu didepan televisi maupun didepan laptop untuk menyaksikan acara kesayangannya maupun bercengkarama dengan teman sejawatnya didunia maya. Akibatnya budaya hedonisme dan konsumerisme pun melekat dalam diri mereka. Idola – idola baru yang “diorbitkan” oleh media ternyata sangat ampuh  dalam meruntuhkan pondasi awal kemajuan bangsa, yaitu motivasi belajar siswa. Jika sudah seperti ini bisa dibayangkan pemimpin macam apa yang akan lahir dari generasi semacam ini dimasa yang akan datang. Mereka akan menjadi para pemimpun sekalipun tak layak disebut pemimpin.
Fenomena tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik. Proses pembelajaran yang dirasakan kurang menarik oleh siswa harus bersaing ketat dengan acara-acara hiburan yang begitu memikat. Ahasil, usaha untuk membangun generasi emas seperti yang tengah dicanangkan oleh pemerintah pun seakan lenyap ditelan oleh hingar-bingarnya tayangan-tayangan hiburan yang disiarkan tanpa henti. Perpustakaan pun tak lagi menjadi tempat favorit siswa untuk membaca dan berdiskusi namun lebih terlihat seperti toko buku yang buku-bukunya masih disegel dengan rapih. Lebih menghawatirkan lagi, tak jarang perpustakaan menjadi “rumah favorit” cakcak, cucunguk, lancah maung jeung sajabana akibat jarang dikunjungi oleh siswa.
Dalam kondisi ini ada tiga pihak yang turut andil dalam melunturkan budaya ilmiah dikalangan pelajar. Pertama, rajinnya media dalam menyuguhkan tayangan hiburan dan menampilkan idola-idola baru bagi anak sekalipun moralnya bobrok menyebabkan anak kehilangan daya kritisnya sekaligus menurunkan motivasinya untuk belajar. Kedua, ketidaktegasan pemerintah untuk menindak media yang menampilkan tayangan-tayangan yang tidak mendidik bahkan bertentangan dengan norma semakin membuat media berani untuk menampilkan tayangan-tayangan yang tidak bermanfaat dan bermartabat tersebut.
Ketiga, sikap orang tua yang abai terhadap anaknya karena kesibukannya diluar rumah menjadikan peran mereka tergantikan oleh media. Dulu ketika gadget belum ramai seperti sekarang, anak lebih banyak diasuh oleh pembantu. Kini dengan alasan agar anak tidak sering keluar rumah Akibatnya anak lebih banyak meniru apa yang dicontohkan oleh media daripada apa yang dikatakan oleh orang tua maupun guru.
Untuk mengatasi permasalahan semacam ini diperlukan sinergi antara ketiga pihak tersebut. Media sejatinya berfungsi sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi anak, bukan malah merusak mental anak dengan berbagai tayangan yang tidak mendidik. Media hendaknya memberikan dukungan terhadap program-program untuk mencerdaskan anak bangsa melalui berbagai iklan layanan masyarakat akan pentingnya sekolah maupun melalui berbagai tayangan yang secara spesifik membahas materi-materi pelajaran tertentu.
 Adapun untuk melindungi anak-anak dari berbagai tayangan yang dapat merusak mental mereka seperti tayangan hiburan yang berlebihan, pemerintah bisa membuat peraturan yang lebih tegas untuk memfilter konten-konten yang tidak bermanfaat. Selain itu ketegasan pemerintah untuk menindak media-media yang terbukti melanggar peraturan sangat kita harapkan.
Selain kedua hal diatas, yang jauh lebih penting adalah peran orang tua dirumah dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak. Menyediakan buku-buku yang sesuai disertai akses internet secukupnya merupakan upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua. Faktor-faktor yang dapat mengganggu proses belajar anak seperti televisi  sebisa mungkin dijauhkan dari anak.  Dengan adanya sinergi semacam ini kita berharap budaya literasi yang merupakan ciri khas pelajar dapat kembali melekat. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar