Senin, 13 Januari 2014

Peluang dan Tantangan BIPA



Mengambil tema “Penguatan Bahasa Indonesia di Dunia Internasional”, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud  melaksanakan Kongres Bahasa Indonesia ke X mulai tanggal 28 sampai dengan 31 Oktober yang lalu. Pengambilan tema pada kongres tersebut tentunya cukup beralasan mengingat saat ini program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) mengalami perkembangan yang signifikan.
            Berdasarkan data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, saat ini tercatat sedikitnya 45 negara yang mengikuti program BIPA. Tingginya antusiasme masyarakat internasional tersebut tentunya merupakan peluang bagi kita untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional yang layak diperhitungkan. Bahkan dalam sidang ASEAN Inter-Parliamentary  assembly (AIPA)  pada tahun 2011 yang lalu ketua DPR RI secara resmi mengusulkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja (working language) pada sidang-sidang AIPA.
            Tingginya animo masyarakat dunia terhadap bahasa Indonesia pada dasarnya didorong oleh beberapa faktor seperti keinginan warga negara asing untuk kuliah di Indonesia, melakukan penelitian di Indonesia, sampai dengan memperluas usahanya. Fenomena tersebut tentunya akan memberikan keuntungan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dalam makalahnya yang berjudul “Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA): Peluang, Tantangan dan Solusi”, I Made Sujana menyebutkan beberapa peluang  yang dapat dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia melalui program BIPA.
 Pertama, program BIPA secara langsung akan memberikan kesempatan bagi lembaga-lembaga kursus, pusat bahasa maupun lembaga lainnya untuk memperluas usahanya dalam memberikan layanan berupa pelatihan bahasa indonesia sebaga bahasa asing. Dengan begitu secara tidak langsung akan memberikan keuntungan finansial bagi lembaga maupun pengajar BIPA.
            Kedua, pesatnya perkembangan dan luasnya garapan BIPA memungkinkan BIPA menjadi bidang ilmu tersendiri yang dapat disejajarkan dengan bidang-bidang ilmu lainnya seperti TOEFL untuk bahasa Inggris dan Deutsch als Fremdsprache (DaF) untuk bahasa Jerman. Ketiga, ditengah semakin banyaknya sentra BIPA didalam dan diluar negri tidak menutup kemungkinan untuk menjadikan pengajar BIPA sebagai profesi tersendiri.
            Ditengah banyaknya peluang seperti yang telah disebutkan diatas, ada beberapa upaya yang sebaiknya dilakukan agar peluang tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan. Pertama, mempersiapkan dengan sungguh-sungguh SDM yang benar-benar kompeten untuk diterjunkan menjadi instruktur BIPA. Upaya ini dapat dilakukan dengan membuka jurusan khusus BIPA di perguruan tinggi maupun melaksanakan program sertifikasi BIPA.
            Kedua, mempersiapkan kurukulum BIPA dengan sebaik-baiknya agar tujuan yang ingin dicapai lebih terarah. Selain itu penyiapan bahan ajar yang memadai merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan proses belajar. Ketiga, meningkatkan mutu layanan BIPA yang bersifat non akademis. Hal ini biasanya berkaitan dengan urusan administrasi yang secara tidak langsung akan mempengaruhi  proses pembelajaran.
            Melalui berbagai upaya tersebut kita berharap bahasa Indonesia mampu menjadi sarana untuk meningkatkan daya tawar bangsa ini ditengah percaturan dunia yang semakin kompleks.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar