Senin, 20 Januari 2014

(Re)Orientasi UPI Sebagai Universitas Pendidikan



Ada yang menarik pada peringatan Dies Natalis UPI tahun ini. Dengan mengambil tema “Menghimpun Kekuatan Keilmuan Pendidikan”, pada usianya yang ke 59 ini UPI memantapkan kembali jatidirinya sebagai perguruan tinggi pencetak calon-calon guru. Selama perjalanannya, kampus tempat dimana penulis pernah mengenyam pendidikan selama beberapa tahun ini telah mengalami kemajuan yang begitu pesat. Mulai dari pembangunan sarana fisik sampai dengan dijalinnya kerja sama dengan universitas-universitas ternama di luar negeri.
            Seperti kita ketahui saat ini UPI tengah menjalin kerjasama dalam bentuk pertukaran pelajar maupun staff dengan beberapa universitas ternama di Jepang. Selain itu riset bersama dalam bidang pendidikan guru pun terus dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kompetensi lulusan. Nara University dan Ibaraki University adalah perguruan tinggi yang saat ini tengah menjalin kerjasama dengan UPI.   
             Ditengah berbagai prestasi yang berhasil diraih oleh UPI, terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh perguruan tinggi yang dikenal sebagai pencetak calon-calon pendidik ini. Pertama, ketidaksiapan guru dilapangan dalam membuat karya tulis ilmiah tentunya akan menghambat usaha guru yang bersangkutan dalam mengembangkan kompetensinya dan meningkatkan kariernya. Hal ini sejatinya tidak terlepas dari tanggung jawab perguruan tinggi yang bersangkutan dalam menghasilkan lulusannya.
            Kedua, banyaknya guru yang tidak memahami peraturan perundang-undangan terutama yang berkaitan dengan profesinya sebagai pendidik menjadi persoalan tersendiri dikemudian hari. Banyaknya guru yang selalu menuntut hak dengan tidak pada tempatnya ataupun guru yang belum melakukan kewajiban sepenuhnya merupakan akibat ketidakpahaman guru tersebut pada undang-undang yang mengatur profesinya. Tidak adanya mata kuliah khusus yang membahas tentang materi semacam ini disinyalir sebagai penyebabnya.
            Ketiga, kebijakan UPI untuk membuka jurusan-jurusan non kependidikan dikhawatirkan lambat laun akan melunturkan identitas UPI sebagai “sokoguru” kampus pencetak pendidik. Disaat perguruan tinggi lain berlomba untuk membuka jalur kependidikan nampaknya tidak tepat bagi UPI membuka jurusan non kependidikan.
            Dalam pandangan penulis, akan lebih baik jika UPI tetap fokus sebagai perguruan tinggi pencetak calon-calon pendidik dan senantiasa berinovasi dalam menghadapi setiap tantangan yang mungkin dihadapi oleh para pendidik. Penghapusan S1 jalur non skripsi, pengadaan mata kuliah tentang pembuatan karya tulis ilmiah dan mata kuliah tentang segala peraturan yang berkenaan dengan profesi guru adalah beberapa contoh dari terobosan yang dapat diambil oleh pengambil kebijakan.
            Dengan tetap berorientasi sebagai perguruan tinggi pencetak calon pendidik dan senantiasa berinovasi kita berharap pendidikan di Indonesia akan semakin berkualitas dari waktu ke waktu.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar