Jumat, 03 Januari 2014

Tahun Baru bagi Dunia Pendidikan



Pergantian tahun yang baru saja kita lewati hendaknya kita maknai sebagai momentum perubahan kearah yang lebih baik. Bagi dunia pendidikan sendiri, datangnya tahun baru ini merupakan era dimana revolusi dibidang pendidikan (seharusnya) terjadi . Revolusi tersebut tentunya melibatkan semua stake holder yang sangat menentukan arah pendidikan dimasa yang akan datang.
            Bagi seorang pendidik, tahun baru hendaknya dijadikan kesempatan untuk meningkatkan kinerja yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Adapun tahun 2013 yang baru saja kita lewati hendaknya dijadikan cermin oleh setiap pendidik untuk tidak mengulangi berbagai kesalahan yang pernah dilakukan pada masa tersebut.   Datang kesiangan, tidak melengkapi administrasi pembelajaran sampai dengan datang ke kelas tanpa persiapan merupakan kebiasaan yang tidak boleh kita temui lagi ditahun yang baru ini, terlebih bagi mereka yang telah menyandang “gelar” guru sertifikasi.
            Sebaliknya, ditahun yang baru ini setiap pendidik hendaknya mampu menjadi “kepompong” yang segera bermetamorfosis menjadi kupu-kupu cantik dan menghiasi dunia pendidikan kita dengan berbagai prestasi yang dapat dibanggakan.
            Adapun bagi pemerintah selaku pemangku kebijakan, tahun 2014 ini merupakan ajang pembuktian bahwa kurikulum baru yang selama ini diwacanakan sebagai kurikulum yang mampu menjawab tantangan dimasa yang akan datang benar-benar terbukti “kesaktian” nya. Kita tentu tidak ingin melihat dana  triliunan rupiah yang telah digelontorkan menjadi tidak optimal karena perencanaan yang tidak matang. Masih banyaknya guru-guru yang kebingungan mengenai implementasi kurikulum baru ini mereupakan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.  
            Selain itu akan segera terjadinya pergantian pucuk kepempinan dinegeri ini merupakan tantangan lain yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan. Kekhawatiran bahwa ganti pejabat identik dengan ganti kurikulum hendaknya tidak perlu terjadi jika kurikulum yang saat ini tengah kita jalankan benar-benar siap. Kita tentu tidak ingin kurikulum yang baru seumur jagung ini harus layu sebelum berkembang sebagaimana kurikulum-kurikulum yang pernah berlaku sebelumnya.
            Disisi lain peran maksimal orang tua dalam membimbing anak-anaknya dirumah sangat kita harapkan. Kesenjangan proses pendidikan antara pihak sekolah dengan orang tua seperti yang selama ini terjadi mudah-mudahan ditahun yang baru ini tidak terulang. Kita berharap, orang tua tidak lagi memperlakukan sekolah sebagai Tempat Penitipan Anak (TPA) dan menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan anaknya  kepada sekolah. Dalam hal ini orang tua memiliki kewajiban untuk melanjutkan proses pendidikan yang selama ini dilakukan di sekolah.
            Dengan adanya sinergi dari para pemegang stake holder tersebut kita berharap tahun baru ini benar-benar membawa suasana baru yang lebih baik bagi dunia pendidikan. Dengan begitu kita pun berharap tujuan pendidikan seperti yang selama ini dicita-citakan dapat segera terwujud.(Dimuat di Harian Umum Republika, 03 Januari 2014)
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar