Senin, 03 Februari 2014

Implikasi Dihapuskannya Pelajaran TIK



Wacana tentang penyalahgunaan teknologi Gadget di kalangan remaja sangat menarik untuk disimak. Kenyataan menunjukkan bahwa tingginya penggunaan teknologi informasi dikalangan remaja Indonesia ternyata lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, bahkan cenderung menyimpang. Akibatnya banyak terjadi kasus kejahatan maupun pelecehan seksual yang disebabkan oleh penggunaaan teknologi gadget yang tidak semestinya ini. Adapun rasa ingin tahu remaja terhadap hal-hal baru, baik itu yang bersifat positif maupun negatif disinyalir sebagai penyebabnya.
            Derasnya arus globalisasi nampaknya mustahil dapat kita bendung. Cepatnya perkembangan teknologi informasi yang merupakan salah satu ciri globalisasi hendaknya dimaknai sebagai peluang sekaligus tantangan, khususnya dalam dunia pendidikan. Kita tentu tidak bisa “mengharamkan” siswa untuk menggunakan gadget yang dimilikinya terlebih gadget tersebut hanya digunakan didalam rumah. Yang bisa kita lakukan adalah mengarahkan para peserta didik agar menggunakan alat tersebut hanya untuk hal-hal yang baik.
            Akan tetapi melihat kurikulum baru yang saat ini tengah diberlakukan nampaknya pihak sekolah tidak mampu berbuat banyak. Dihapuskannya pelajaran TIK untuk jenjang SMP dan SMU menyebabkan tidak ada lagi guru yang dapat mengarahkan siswanya agar menggunakan perangkat teknologi informasi hanya untuk hal-hal positif terutama untuk mendukung proses pembelajaran.
            Anggapan bahwa pelajaran TIK hanya sebatas mengajarkan Office dan Design Grafis saja sehingga tidak perlu lagi diajarkan untuk siswa SMP dan SMU merupakan pandangan yang keliru. Persoalan etika dalam pemanfaatan teknologi informasi adalah materi yang sangat penting untuk disampaikan kepada siswa. Jika pelajaran TIK benar-benar dihapuskan, lalu siapa yang akan mengajarkan materi tentang dampak negatif jejaring sosial dan bahaya game online, Cyber Crime, Cyber Bullyng, Hacking, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) serta materi-materi lainnya yang berhubungan dengan dampak sosial penggunaan teknologi informasi.
            Berbicara tentang teknologi informasi tentu tidak sebatas hanya membahas peranti keras dan peranti lunak saja. Membiarkan anak asyik bermain dengan gadgetnya tanpa adanya pendampingan dari sekolah maupun dari orang tua sama saja dengan menjerumuskan anak kedalam lubang hitam. Akibatnya tak jarang perilaku anak menjadi menyimpang bahkan tak sedikit anak yang menjadi korban kekerasan fisik maupun pelecehan seksual akibat dari penyalahgunaan teknologi tersebut.
            Oleh karena itu ada baiknya kebijakan menghapus pelajaran TIK untuk jenjang SMP dan SMU segera ditinjau ulang. Kita tentu ingin perkembangan teknologi yang sangat cepat ini berbanding lurus dengan peningkatan prestasi belajar anak dan bukan sebaliknya. Dengan adanya arahan dari para guru dan orang tua kita pun berharap dikemudian hari tidak lagi ditemukan kasus-kasus penyalahgunaan teknologi informasi tersebut.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar