Sabtu, 08 Februari 2014

Sarana Pendidikan Karakter



Adanya paradigma yang dianut oleh sebagian besar masyarakat yang menganggap lembaga pendidikan formal sebagai satu-satunya sarana pendidikan karakter patut kita sayangkan.  Hal ini seolah-olah menegaskan pendapat yang mengatakan bahwa proses pendidikan karakter akan berakhir saat anak menerima selembar ijazah. Kasus-kasus besar yang sempat mencoreng wajah dunia pendidikan dan hukum seperti plagiarisme oleh kalangan akademisi maupun kasus suap oleh mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Muchtar bisa jadi merupakan akibat dari paradigma keliru semacam ini.   
            Dalam pandangan penulis, pendidikan karakter sejatinya berlangsung secara utuh dan berkelanjutan. Selain itu pendidikan karakter tidak terikat oleh ruang, waktu maupun subjek pembelajar. Setiap orang, apapun profesinya memerlukan pendidikan karakter agar mampu menjadi manusia seutuhnya.
Sedikitnya ada tiga sarana yang dapat digunakan sebagai tempat untuk menanamkan dan mengamalkan pendidikan karakter. Pertama, media yang memberikan informasi dan masukan yang bermanfaat tentunya akan mampu membentuk karakter seseorang untuk menjadi lebih baik. Sebaliknya, media yang hanya menyuguhkan tontonan yang tidak mendidik berupa tayangan-tayangan hiburan yang berlebihan hanya akan menyuburkan budaya hedonisme dan konsumerisme dikalangan masyarakat. Selain itu media yang baik bukanlah media yang bertujuan menggiring opini masyarakat kearah tertentu, melainkan mendidik masyarakat agar mampu mencerna informasi yang disuguhkan.
            Kedua, lingkungan kerja merupakan  sarana penting lainnya dalam menguji integritas dan dan mengasah kompetensi sosial seseorang.  Adanya konflik (kepentingan) yang tak jarang melibatkan atasan maupun rekan sekerja akan berimbas pada pendirian seseorang. Baginya hanya ada dua pilihan, terbawa arus atau mewarnai lingkungan kerja dengan hal-hal yang baik. Adanya pejabat yang terlibat kasus korupsi bisa jadi bukan karena keinginannya, namun lebih disebabkan ketidakmampuannya dalam menolak perintah atasan yang sebenarnya bertentangan dengan hati nuraninya.
            Ketiga, disadari atau tidak keluarga memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk karakter seseorang. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan benteng paling utama dalam menjaga keselamatan anggotanya baik lahir maupun batin. Mengambil keputusan dengan terlebih dahulu memusyawarahkannya dengan seluruh anggota keluarga merupakan contoh bagaimana pendidikan karakter ditanamkan.
            Dengan memanfaatkan sarana-sarana pendidikan karakter seperti yang telah dijelaskan diatas, kita berharap pendidikan karakter tidak lagi dipandang secara parsial sebagai materi ( yang disisipkan pada setiap mata pelajaran ) disekolah, namun lebih kepada proses internalisasi nilai-nilai secara berkelanjutan.  Dengan begitu, sosok manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan yang dicita-citakan pun dapat terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar