Sabtu, 01 Maret 2014

Ironi Jati Diri Akademisi

Rendahnya animo dosen di perguruan tinggi untuk menulis (buku) nampaknya masih menjadi persoalan serius di dunia pendidikan. Hal ini tentunya akan berimbas pada budaya literasi yang kondisinya sangat memprihatinkan. Dunia kampus yang sejatinya identik dengan budaya membaca, menulis dan berdiskusi seakan sunyi senyap ditelan rutinitas “penghuninya”.
            Berdasarkan data dari Scientific Journal Rankings (SJR), publikasi ilmiah perguruan tinggi Indonesia menempati peringkat 64 dibawah Malaysia yang berada pada urutan 43. Selain itu Indonesia pun masih kalah jauh dibandingkan dengan Singapura yang menduduki perangkat 32 dan Thailand yang berada di peringkat 42. Indonesia hanya lebih baik dari Philipina yang menempati peringkat 70.
Hal ini tentu saja menjadi sebuah ironi ditengah melimpahnya perguruan tinggi dan pendidik yang dimiliki oleh Indonesia. Sebagai informasi saat ini tercatat tidak kurang dari 270 ribu dosen dimana sekitar 24 ribu di antaranya sudah bergelar doktor dan  tersebar di  3.017 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut tentu saja sangat fantastis bila dibandingkan dengan jumlah perguruan tinggi dan akademisi di Malaysia yang tidak mencapai setengahnya.
            Menurut salah seorang pengamat pendidikan yang juga dosen Universitas Paramadina, M Abduh Zen, ada 3 kendala yang menyebabkan para dosen di Indonesia enggan untuk menulis. Pertama, terbatasnya kemampuan dosen dalam menulis. Hal tersebut disebabkan oleh belum berkembangnya budaya ilmiah dikalangan akademisi. Kebanyakan dosen kita lebih memilih “mensyukuri” yang ada disekitarnya daripada membuat inovasi yang baru. Padahal kehidupan kampus sejatinya merupakan kehidupan yang bersifat dinamis.
            Kedua, penghasilan yang rendah membuat para dosen kita terpaksa mengajar dibeberapa perguruan tinggi sekaligus. Akibatnya, waktu untuk menambah pengetahuan maupun untuk menulis karya ilmiah pun hampir tidak ada. Ketiga, insentif menulis buku yang rendah menyebabkan para dosen berpikir dua kali untuk menulis sebuah buku. Selain itu kasus pembajakan buku yang terjadai selama ini mengakibatkan royalti yang diterima oleh penulis buku menjadi semakin kecil.  
            Untuk meningkatkan budaya menulis dikalangan akademisi pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran No. 152/E/T/2012  yang mewajibkan mahasiswa yang akan lulus (S1, S2, S3) untuk mempublikasikan karya tulisnya di jurnal ilmiah. Dengan begitu mau tidak mau setiap mahasiswa maupun dosen  harus membuat satu buah karya ilmiah jika ingin memperoleh gelar tertentu.
            Kebijakan tersebut nampaknya memberikan pengaruh positif. Dalam setahun terakhir jumlah karya ilmiah yang dipublikasikan memang mengalami peningkatan sekitar 3000 an (dikti.go.id). Namun jumlah tersebut masih belum sesuai harapan mengingat masih banyaknya potensi yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang ada.
            Meskipun demikian yang jauh lebih penting adalah mental dan semangat dari para akademisi itu sendiri untuk menjadikan budaya literasi sebagai ciri khas yang membedakan dirinya dengan profesi lainnya. Mudah-mudahan slogan dari para akademisi di Eropa yang berbunyi all the scientist are the same until they write a book (semua akademisi adalah sejajar, hingga dia menulis sebuah buku) bisa memberikan motivasi bagi para akademisi di Indonesia. Semoga.
           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar