Sabtu, 22 Maret 2014

Lindungi Anak Dari Jajanan “Sampah”



Penelitian yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan kota Depok terhadap jajanan anak di 55 sekolah yang ada di kota Depok hendaknya menjadi perhatian kita bersama. Berdasarkan hasil uji laboratorium, terungkap fakta bahwa tidak sedikit jajanan sekolah tersebut yang positif mengandung bahan pengawet seperti borak, formalin maupun zat pewarna tekstil sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Harga yang murah serta kemasan yang menarik disinyalir sebagai penyebab utama siswa menjadi pelanggan setia jajanan tersebut. Selain itu kurangnya pemahaman siswa terhadap makanan yang sehat menjadikan mereka tidak selektif dalam memilih jajanan.
            Masih beredarnya jajanan “sampah” tersebut antara lain disebabkan oleh lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak sekolah terhadap makanan yang diperjualbelikan disekitar sekolah. Hal ini membuat para pedagang yang hanya memikirkan keuntungan semata tanpa mempertimbangkan aspek kesehatan anak bebas menjalankan aksinya. Mereka beralasan, bahan pengawet tersebut diperlukan agar makanan yang mereka jual tidak cepat basi. Selain itu tidak adanya pengawasan yang ketat dari pemerintah terhadap peredaran bahan pengawet maupun zat pewarna menjadikan kedua bahan tersebut dapat diperoleh dengan mudah dipasaran.
            Kondisi ini diperparah dengan kurangnya perhatian orang tua terhadap makanan yang dikonsumsi oleh anak setiap harinya. Aktivitas orang tua yang begitu padat menyebabkan mereka tidak sempat mempersiapkan bekal makanan untuk anaknya. Kebanyakan dari mereka lebih suka memberikan uang jajan yang cukup besar bagi anaknya. Akibatnya, anak pun bebas membeli makanan yang mereka kehendaki tanpa mempedulikan apakah makanan tersebut baik atau tidak bagi kesehatan.
            Untuk mencegah bahaya lebih lanjut, diperlukan kerjasama antar berbagai pihak dalam mengawasi jajanan yang diperjualbelikan di sekolah. Apa yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Barat dengan membentuk Tim Keamanan Pangan (TKP) yang beranggotakan komite sekolah, orang tua, kepala sekolah, guru dan pengelola kantin hendaknya dapat dijadikan contoh bagi daerah lainnya. Adapun tugas dari tim tersebut adalah untuk memantau peredaran makanan yang ada di sekolah.
            Selain itu aparat pun diharapkan aktif dalam mengawasi penggunaan bahan kimia di masyarakat. Jika ternyata ditemukan penyalahgunaan, maka sanksi tegas pun harus ditegakkan
            Dengan adanya sinergi antara pihak sekolah dan orang tua dan pemerintah  diharapkan kedepan tidak ada lagi anak yang sakit-sakitan karena sering mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat. Selain itu, dengan menciptakan pola hidup sehat disekolah dan dirumah diharapkan akan memupuk kesadaran siswa akan pentingnya hidup sehat untuk masa kini dan masa yang akan datang.(Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 21 Maret 2014)


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar