Rabu, 23 April 2014

Menumbuhkan Minat Membaca



Laporan UNESCO tentang indeks membaca masyarakat Indonesia yang dirilis pada tahun 2012 lalu hendaknya menjadi perhatian kita bersama. Dalam laporan tersebut terungkap fakta bahwa indeks membaca orang Indonesia hanya 0,001 %. Artinya dari seribu orang Indonesia, hanya satu orang yang memiliki minat  membaca buku. Sungguh mengharukan !
Lain halnya dengan Indonesia, masyarakat Singapura dan Hongkong memiliki reputasi sangat baik dalam hal membaca.  Di kedua negara tersebut, dari seribu orang warga negara, 550 diantaranya memiliki minat membaca yang tinggi. Hal ini tentunya berpengaruh pula terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki. Tak heran jika kedua negara tesebut dikenal sebagai negara yang cukup disegani di Asia.
Rendahnya minat membaca masyarakat kita bukan tanpa alasan. Banyak faktor yang menyebabkan membaca belum menjadi budaya sehingga tidak dianggap sebagai suatu kebutuhan. Banyaknya acara-acara hiburan yang ditawarkan oleh media elektronik secara tidak langsung menjauhkan anak-anak kita dari buku. Remaja kita yang sejatinya merupakan generasi penerus bangsa, malah dinina bobokan oleh berbagai tayangan hiburan yang disuguhkan oleh televisi maupun gadget yang mereka miliki.
Setali tiga uang, orang tua yang diharapkan mampu melindungi anak dari berbagai tayangan “sampah” seakan tak berdaya untuk menolak keinginan anaknya. Sebagian besar orang tua kita cenderung mengalah saat anak memiliki keinginan.  Bahkan, tidak sedikit dari orang tua kita yang karena kesibukannya kurang begitu memperhatikan perkembangan (akademik maupun perilaku) anak-anaknya.
Kondisi ini diperparah dengan kurang berfungsinya perpustakaan sebagai jantungnya sekolah. Tidak terurusnya ruang perpustakaan sekolah membuat para siswa enggan untuk mengunjunginya. Selain itu kurangnya buku-buku yang dibutuhkan oleh siswa membuat siswa semakin jauh dari gudang ilmu tersebut.
Menyikapi persoalan-persoalan tersebut, dibutuhkan kerjasama antara berbagai pihak. Sekolah sebagai rumah kedua bagi anak hendaknya mampu menciptakan suasan yang kondusif bagi terciptanya budaya membaca. Menghidupkan (kembali) dan menata perpustakaan sekolah bisa menjadi kunci menuju terciptanya budaya akademik tersebut.
Adapun orang tua seyogyanya mampu melanjutkan upaya yang dilakukan oleh sekolah dalam menumbuhkan minat membaca anak-anaknya. Menjauhkan anak dari tayangan-tayangan “sampah” yang tidak mendidik bahkan menjerumuskan merupakan upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua. Selain itu menyediakan buku-buku baru yang dibutuhkan oleh anak tentunya dapat memacu semangat anak untuk giat membaca.
Dengan adanya berbagai upaya tersebut kita berharap akan tercipta budaya membaca di kalangan generasi muda. Dengan begitu generasi emas yang kita dambakan benar-benar dapat terwujud. Selamat Hari Buku Sedunia, 23 April !   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar