Kamis, 10 April 2014

Peluang dan Tantangan Sekolah Penerbangan



Kebijakan Kementerian Perhubungan untuk menambah sekolah pilot di Banyuwangi sedikitnya memberikan angin segar bagi dunia penerbangan kita. Pendirian sekolah penerbangan yang baru tersebut  tentunya akan sangat membantu dalam mengatasi kekurangan jumlah pilot lokal ditengah gempuran “pilot import”. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa lebih ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan akan tenaga pilot untuk didalam negeri. Akhirnya tingkat ketergantungan pada pilot asing pun sangat tinggi.
            Berdasarkan data yang diperoleh dari Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenhub, saat ini Indonesia membutuhkan sekitar 800 tenaga pilot setiap tahunnya . Bahkan untuk kawasan Asia dibutuhkan sedikitnya 185.00 pilot hingga tahun 2031. Namun dari seluruh sekolah penerbangan yang ada, Indonesia baru mampu mencetak 360 pilot setiap tahunnya. Saat ini hanya terdapat 16 sekolah penerbangan yang ada di Indonesia. Jumlah tersebut tentu saja belum cukup untuk menampung banyaknya calon siswa yang bercita-cita menjadi pilot. Alhasil, tingkat persaingan pun sangat ketat dan calon siswa yang tidak lulus harus ikhlas menghapus cita-citanya.
            Selain kurangnya jumlah sekolah penerbangan, kendala lain yang dialami oleh dunia penerbangan kita adalah mahalnya biaya pendidikan untuk menjadi seorang pilot profesional. Saat ini biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang taruna untuk pendidikan selama 18 bulan disekolah penerbangan milik Kemenhub mencapai Rp. 70 juta. Sedangkan untuk sekolah penerbangan yang dikelola oleh swasta biayanya bisa mencapai sepuluh kali lipatnya.
            Tingginya kebutuhan akan tenaga pilot sejatinya merupakan peluang bagi insan-insan pribumi untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Tingginya pendapatan tenaga pilot tentu akan sangat membantu perekonomian keluarga dibandingkan dengan pekerjaan lainnya. Besarnya anggaran pendidikan yang dimiliki oleh pemerintah yang berasal dari APBN ditambah dengan dana abadi yang jumlahnya mencapai belasan triliun rupiah seharuasnya mampu digunakan untuk membangun puluhan sekolah penerbangan tambahan diseluruh pelosok nusantara.
            Sebagai informasi, hingga tahun 2013 dana abadi pendidikan yang terkumpul mencapai Rp. 15,6 Triliun. Sayangnya dana sebesar itu hanya disimpan dalam bentuk deposito maupun obligasi untuk kemudian diambil bunganya. Hal ini mencerminkan bahwa sekolah penerbangan ternyata belum dipandang sebagai lembaga pendidikan yang memiliki prospek yang menjajnjikan.  
            Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pilot asing sekaligus meningkatkan kesejahteraan (pilot) pribumi, dibutuhkan political will yang kuat dari pemerintah untuk mau berinvestasi dengan cara membangun sekolah-sekolah penerbangan yang baru sehingga mampu menampung lebih banyak jumlah calon siswa yang berminat menjadi pilot.
            Membangun sekolah khususnya sekolah penerbangan sejatinya merupakan investasi Sumber Daya Manusia dibidang penerbangan dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi tantangan dimasa depan. Akan segera dibukanya keran perdagangan bebas tentu harus disambut dengan mempersiapkan SDM yang berkualitas. Dengan begitu kita pun mampu mengurangi ketergantungan terhadap produk dan tenaga asing dan pada akhirnya kita pun mampu berjaya dinegeri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar