Selasa, 22 April 2014

Ujian (Nasional) yang Humanis



Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMA dan sederajat baru saja usai. Para siswa pun  tinggal menunggu hasilnya yang akan diumumkan beberapa pekan kedepan. Berbagai persiapan akademik maupun non akademik sebenarnya telah mereka lakukan dalam rangka menyambut hajatan tahunan ini. Mulai dari kegiatan pengayaan, try out sampai dengan do’a bersama dilakukan oleh para siswa demi mendapatkan hasil yang maksimal. Tak hanya itu, beberapa siswa bahkan sengaja mengunjungi makam leluhurnya agar diberikan kemudahan dalam mengisi soal-soal ujian.  Hal ini mereka lakukan mengingat UN tahun ini turut menentukan kelulusan mereka untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
            Berkaca dari pengalaman UN pada tahun-tahun sebelumnya, suasana saat pelaksanaan UN biasanya berlangsung cukup tegang. Perasaan takut (tidak lulus), gelisah sampai dengan frustasi sering kali dirasakan oleh para siswa saat mengerjakan soal-soal UN. Suasana pun bertambah tegang manakala beberapa aparat kepolisian datang untuk memantau pelaksanaan UN di sekolah-sekolah. Sekolah seakan dipandang sebagai salah satu tempat yang berpotensi terjadinya suatu kejahatan. Bahkan saat siswa akan ke tolilet pun harus ditemani oleh pengawas. Siswa seakan dianggap sebagai individu yang tidak lagi dapat dipercaya.
            Jika kita bandingkan dengan suasana ujian di negara maju, maka kita akan mendapatkan pemandangan berbeda. Jerman, sebagai salah satu negara maju dimana penulis pernah mengenyam pendidikan, memiliki cara tersendiri agar peserta didiknya nyaman saat melaksanakan ujian. Ketika ujian berlangsung, suasana kelas dibuat senyaman mungkin. Setiap anak diperbolehkan membawa makanan maupun minuman kedalam kelas. Bahkan saat penulis mengikuti ujian kemampuan berbahasa, setiap peserta ujian diberikan coklat oleh pengawas ujian yang begitu ramah. Alhasil, seluruh anak pun seakan menikmati saat-saat ujian tersebut seakan tidak ada beban. Waktu 2 jam yang diberikan pun seakan tak terasa karena asyik mengerjakan soal.
            Melihat karakteristik orang Indonesia yang dikenal sangat ramah, sebenarnya bukan hal sulit untuk menciptakan suasana ujian (nasional) yang humanis. Yang dibutuhkan adalah kemauan dan usaha dari pihak sekolah untuk meyakinakan peserta didiknya bahwa ujian (nasional) bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan untuk dihadapi dan dinikmati. Oleh karenannya sekolah pun dituntut untuk kreatif dalam menciptakan suasana menarik  saat ujian. Misalnya saja  seluruh peserta didik diwajibkan untuk menggunakan pakaian tradisional sambil membawa makanan khas daerah tersebut saat ujian berlangsung. Dengan begitu stigma (negatif) tentang ujian (nasional) yang selama ini melekat pun lambat laun dapat dikurangi.
            Bukankah hakikat dari pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia ? Jika benar adanya, maka proses evaluasi pun harus dilakukan secara manusiawi pula.  (Dimuat di Harian Umum Republika, 22 April 2014)


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar