Rabu, 21 Mei 2014

Bara Sekam Monopoli Tunjangan Profesi







Malang benar apa yang dialami oleh para staff tenaga kependidikan kita. Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya mereka harus kembali menelan kekecewaan. Usulan tunjangan untuk tahun 2014 yang diajukan oleh para staff tata usaha yang tergabung dalam Forum Tata Usaha Honor Sekolah (FTHS) beberapa waktu yang lalu akhirnya ditolak oleh dewan dan Pemkot Bandung dengan alasan tidak ada payung hukumnya.
            Sudah menjadi rahasia umum bahwa staff tenaga kependidikan seperti tata usaha maupun bendahara sekolah selalu menjadi anak tiri dirumah sendiri. Disaat para guru bersuka ria menikmati “kue” tunjangan profesi, tenaga kependidikan kita harus rela gigit jari. Mulai dari tunjangan sertifikasi, inpassing sampai dengan tunjangan daerah semuanya jatuh ketangan para pendidik. Adanya ungkapan “Padamelan Sami, Kekengingan Benten” ternyata benar adanya.
Wacana peningkatan kualitas pendidikan yang selalu diidentikan dengan peningkatan kualitas pendidik tanpa melihat peran tenaga kependidikan seolah menjadi “alibi” bagi para tenaga pendidik untuk melakukan “monopoli” berbagai program peningkatan kompetensi maupun peningkatan kesejahteraan yang selama ini digulirkan oleh pemerintah. Padahal dalam undang-undang Sisdiknas No 20 tahun 2003 disebutkan dengan jelas bahwa tenaga pendidik dan tenaga kependidikan berhak atas penghasilan  yang layak dan berhak untuk mengikuti berbagai program peningkatan kompetensi sesuai dengan bidangnya.
Berdasarkan fakta tersebut terlihat jelas bahwa tenaga pendidik dan tenaga kependidikan memiliki hak yang sama dan kedudukan yang sejajar. Adapun yang membedakan keduanya hanyalah pembagian tugas sesuai dengan kompetensinya dengan tujuan yang sama yaitu memberikan layanan pendidikan  terbaik bagi masyarakat.
Oleh karena itu tidak ada lagi alasan bagi pemerintah untuk tidak memberikan kesempatan yang sama  bagi para tenaga kependidikan dalam hal pemberian tunjangan profesi maupun tunjangan-tunjangan lainnya. Hal ini dikarenakan baik atau buruknya kondisi dunia pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas tenaga pendidik semata namun juga dipengaruhi oleh kinerja para tenaga kependidikan.
            Selain itu dengan adanya perlakuan yang sama bagi tenaga kependidikan diharapkan dapat mengurangi kecemburuan sosial seperti yang selama ini terjadi. Dengan begitu kedepan akan tercipta sinergi antara tenaga pendidik dan kependidikan yang akan berimplikasi pada semakin baiknya layanan pendidikan yang diberikan pada masyarakat.



 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar