Sabtu, 03 Mei 2014

Filosofi Pendidikan Sunda Buhun



Survei yang dikeluarkan oleh Programmme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2012 lalu menempatkan Indonesia pada peringkat paling bawah dari 65 negara dalam hal kemampuan membaca, matematika dan sains. Hal ini tentunya menjadi tamparan keras bagi pemerintah yang selalu mengklaim bahwa mutu pendidikan di Indonesia sudah lebih baik dari masa-masa sebelumnya.
            Adapun berbagai upaya untuk merubah wajah dunia pendidikan kita sebenarnya telah ditempuh oleh pemerintah selama satu dasawarsa ini. Mulai dari memberlakukan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada tahun 2004 lalu yang kemudian diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006, sampai dengan mempertahankan keberadaan Ujian Nasional (UN) yang hingga hari ini masih mengundang polemik. Tak hanya itu, pemerintah pun mencoba peruntungannya dengan mulai memberlakukan kurikulum 2013 yang bagi sebagaian kalangan semakin tidak jelas arah dan tujuannya.     
            Jika kita mau menengok ke belakang sejenak saja, para karuhun kita ternyata memiliki filosofi pendidikan yang luhur. Folosofi pendidikan tersebut telah berhasil membawa kemakmuran sejak zaman Salaka Nagara hingga  ke Pakuan Pajajaran selama seribu tahun. Bahkan menurut Stephen Openheimer dalam bukunya yang berjudul Sundaland, Tatar Sunda merupakan salah satu pusat peradaban di dunia. Adapun filosofi pendidikan yang dimaksud adalah cageur, bageur, bener, pinter tur singer.  
            Cageur mengandung arti bahwa anak harus sehat secara jasmani dan rohani. Dalm hal ini pendidikan harus mampu membentuk insan yang sehat secara lahir maupun batin. Adapun bageur mengandung arti bahwa pendidikan diarahkan untuk membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia. Para karuhun kita menyadari betul pentingnya penanaman nilai-nilai akhlak sejak dini. Bagi mereka, akhlak peserta didik merupakan pondasi awal yang harus dibangun sebelum anak diberikan ilmu pengetahuan maupun keterampilan.
               Selanjutnya kata bener mengajarkan anak untuk senantiasa mengerjakan segala sesuatu dengan benar dalam menjalankan tugasnya  dan tidak asal-asalan. Selain itu kata bener mengajarkan anak untuk senantiasa berbuat amanah dan tidak menyimpang. Setelah ketiga nilai dasar tersebut tertanam, barulah dilakukan transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada peserta didiknya. Kata pinter mengandung makna bahwa anak haruslah memiliki pengetahuan yang memadai sebagai bekal dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat nanti. Artinya selain memiliki kecerdasan akademik, anak juga dituntut untuk memiliki pemahaman agama yang memadai.
            Adapun singer sejatinya mengajarkan anak untuk senantiasa mawas diri terhadap lingkungan sekitar dan senantiasa mendahulukan kepentingan orang lain. Istilah bisa mihapekeun diri sorangan merupakan bagian penting dari nilai yang terakhir ini.
            Berdasarkan penjelasan diatas sudah saatnya kita kembali memanfaatkan warisan leluhur kita yang sudah terbukti mampu membangun peradaban dan memberikan kemakmuran. Dengan begitu sebagai bangsa yang besar kita pun tidak akan sampai kehilangan jati diri akibat (selalu) berkiblat kepada bangsa lain. Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei !.
                                                                                                                          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar