Kamis, 08 Mei 2014

Generasi Emas Ditengah Derasnya Ancaman Pornografi



Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati Jakarta tentang perilaku pelajar saat ini hendaknya menjadi perhatian kita bersama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 yang lalu terungkap fakta bahwa 95 % pelajar di Jakarta sudah pernah mengakses situs pornografi (PR, 25/04/2014). Laporan tersebut disampaikan dalam acara seminar dengan tema “Tantangan Mengasuh Anak di Era Digital” yang dilaksanakan beberapa waktu yang lalu.
            Banyaknya pelajar yang melakukan menyalahgunakan teknologi informasi tersebut patut kita sayangkan. Perilaku menyimpang semacam ini tentunya akan mendorong terjadinya kejahatan seksual dikalangan remaja. Tak heran jika saat ini banyak remaja kita yang menjadi korban maupun pelaku pelecehan seksual. Ironisnya, pelecehan tersebut tak jarang terjadi ditempat-tempat umum seperti sekolah, warung internet dan tempat-tempat lainnya. Akibatnya sekolah pun tidak lagi dianggap sebagai tempat paling aman bagi anak setelah rumahnya.
            Untuk mencegah kerusakan (moral) lebih lanjut, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan. Pertama, aparat penegak hukum hendaknya memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku maupun pengedar konten pornografi. Hukuman penjara bagi sang mantan vokalis Peterpan hendaknya menjadi awal, bukan sebaliknya. Adanya Undang-Undang ITE, UU Telekomunikasi dan UU Pornografi sejatinya benar-benar dimanfaatkan secara maksimal oleh penegak hukum. Kedua, pemerintah pusat yang diwakili oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) hendaknya mampu melakukan pemblokiran secara aktif dan berkala terhadap situs-situs yang bemuatan konten pornografi tanpa harus menunggu aduan dari masyarakat. Selain itu pemerintah pun diharapkan mampu untuk “memaksa” penyedia layanan internet atau provider untuk melakukan filtering secara mandiri.
            Ketiga, diperlukan semacam pelatihan bagi orang tua agar mereka memahami kondisi dunia maya yang sebenarnya. Hal ini dikarenakan dalam banyak kasus, orang tua tidak paham apa saja yang dilakukan oleh anak mereka ketika berselancar. Dalam hal ini pihak sekolah dapat berinisiatif mengadakan kegiatan Parenting Skills khusus dengan tema yang berkaitan dengan dunia internet.
            Keempat, peran komunitas-komunitas IT dalam membuat perangkat lunak (software) khusus untuk mendeteksi maupun memblokir situs-situs porno sangat kita harapkan. Jika diperlukan, membuat browser sendiri untuk berselancar diharapkan mampu mengurangi jumlah akses terhadap situs-situs porno. Hal ini dikarenakan, browser yang beredar dipasaran sangat rentan untuk disusupi.
            Dengan berbagai upaya tersebut kita berharap jumlah remaja yang mengakses situs-situs porno dapat dikurangi secara bertahap. Dengan begitu internet sehat pun tidak lagi hanya menjadi slogan, namun benar-benar dapat diwujudkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar