Rabu, 14 Mei 2014

Jauhkan Anak dari Tayangan “Sampah”



Terjadinya pergeseran perilaku remaja ke arah yang negatif sebagai akibat maraknya tayangan televisi yang tidak mendidik sudah selayaknya menjadi perhatian kita bersama.  Banyaknya tayangan yang berbau kekerasan maupun melanggar nilai-nilai kesopanan dan kesusilaan sudah saatnya kita sikapi dengan serius. Jika tidak, remaja  yang merupakan generasi penerus bangsa ini terancam akan kehilangan masa depannya dan layu sebelum berkembang.
            Pada dasarnya media elektronik seperti televisi memiliki tiga fungsi utama yaitu, hiburan, edukasi dan informasi. Namun pada kenyataannya fungsi yang pertama jauh lebih menonjol dibandingkan dua fungsi lainnya. Selain mendapatkan “jatah” durasi lebih lama, tayangan-tayangan  hiburan tersebut disiarkan pada waktu-waktu prime time. Tak heran jika tayangan tersebut memiliki rating yang cukup tinggi.
            Celakanya, tayangan-tayangan hiburan tersebut didominasi oleh adegan-adegan berbau kekerasan verbal. Berbagai uangkapan makian, umpatan sampai dengan kata-kata yang tidak senonoh meluncur begitu saja dari mulut pembawa acara maupun para pemeran adegan. Tak ayal anak-anak kita pun tumbuh menjadi generasi beringas dan sulit diatur. Televisi seakan menjadi “guru” bagi anak-anak kita dalam mengajarkan berbagai kosakata yang sebenarnya tidak pantas mereka ucapkan. Bahkan The National Institute of Mental Health, sebuah badan yang meneliti tentang kekerasan pada televisi menyampaikan laporan bahwa kekerasan pada tayangan televisi mengakibatkan anak  tumbuh menjadi generasi yang agresif.
            Masih munculnya berbagai tayangan yang tidak mendidik tersebut sejatinya tak dapat dilepaskan dari tidak jelasnya “ideologi” yang dimiliki oleh stasiun televisi. Kebanyakan dari mereka lebih mementingkan motif ekonomi daripada menjalankan fungsi edukasi. Stasiun televisi seakan “tersandera” oleh kepentingan sponsor yang “menghidupi” mereka. Pada akhirnya degradasi moral pun tak lagi menjadi hal yang patut untuk dipertimbangkan.
            Menyikapi fenomena tersebut ada dua langkah yang harus dilakukan untuk melindungi anak-anak kita dari berbagai tayangan “sampah” tersebut. Pertama, pemerintah sebagai pemegang regulasi hendaknya bisa lebih memainkan perannya dalam melindungi masyarakat dengan memberikan sanksi tegas kepada pihak statisun televisi yang terbukti melanggar aturan . Selain itu peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) maupun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam mengontrol tayangan televisi sangat kita harapkan. 
            Kedua, masyarakat hendaknya proaktif dalam menyikapi berbagai tayangan televisi yang tidak mendidik. Orang tua diharapkan segera melapor kepada KPI jika menemukan acara-acara yang dinilai dapat menjerumuskan anak-anaknya. Hal ini diperlukan agar stasiun televisi tidak seenaknya dalam menayangkan acara-acara.
            Namun demikian yang jauh lebih penting adalah itikad baik dari stasiun televisi yang ada untuk memberikan tayangan yang mendidik bagi masyarakat. Dengan begitu televisi sebagai salah satu sarana edukasi bagi masyarakat pun benar-benar terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar