Kamis, 15 Mei 2014

Keamanan Lingkungan Sekolah



Kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum petugas kebersihan sekolah kepada salah satu murid Taman Kanak-Kanak (TK) bertaraf internasional di Jakarta menimbulkan trauma yang mendalam pada diri korban. Kejadian tersebut tak hanya mengakibatkan luka fisik yang cukup parah namun juga guncangan psikologis yang amat berat. Oleh karenanya sekolah sebagai pihak yang diberikan “mandat” oleh orang tua untuk mendidik dan melindungi anaknya harus bertanggung jawab dalam memulihkan kesehatan fisik dan psikis korban.
            Apa yang terjadi di sekolah berstandar internasional tersebut menunjukkan bahwa lingkungan sekolah ternyata belum mampu menjadi tempat yang aman bagi peserta didiknya. Padahal dalam Pasal 54 Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tercantum dengan jelas bahwa selama berada di lingkungan sekolah, anak wajib dilindungi dari berbagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah maupun pihak lainnya.
            Pada dasarnya ada tiga hal yang menyebabkan berbagai tindak kekerasan masih saja terjadi dalam lingkungan sekolah. Pertama, proses penerimaan guru dan karyawan yang bermasalah. Tidak selektifnya pihak sekolah dalam merekrut guru maupun karyawan baru tentunya akan berpengaruh terhadap kulaitas maupun integritas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki oleh sekolah. Oleh karena  itu untuk mendapatkan SDM yang baik pihak pengelola sekolah hendaknya tidak hanya mengandalkan bagian personalia dalam merekrut SDM baru namun juga melibatkan piskolog profesional untuk lebih mengetahui kejiwaan yang bersangkutan.
            Kedua, lemahnya kontrol atau pengawasan yang dilakukan oleh guru kepada anak didiknya mengakibatkan tindak kekerasan selalu terulang. Berbagai tindak kekerasan yang terjadi di dalam lingkungan sekolah biasanya terjadi pada jam-jam tertentu seperti pada waktu istirahat maupun pulang sekolah. Pada waktu-waktu tersebut pengawasan memang dirasa kurang mengingat para guru pun sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Dalam hal ini sekolah bisa mengoptimalkan peran guru piket untuk mengawasi anaknya pada waktu-waktu yang dianggap rawan tersebut. Selain itu pemasangan perangkat monitoring seperti CCTV akan sangat membantu keamanan sekolah dalam memantau keadaan sekolah.
            Ketiga, kurangnya komunikasi antara peserta didik dengan gurunya, terutama dengan wali kelas. Dalam beberapa kasus, anak baru mau bicara terus terang  tentang tindak kekerasan yang dialaminya setelah kejadian tersebut berlangsung secara berulang-ulang. Artinya selama ini guru maupun wali kelas kurang memperhatikan kondisi anaknya. Guru biasanya hanya terfokus pada urusan-urusan akademik anak tanpa mau memperhatikan perkembangan psikisnya. Oleh karenanya dibutuhkan sebuah proses komunikasi yang baik antara guru (terutama wali kelas) dengan anak didiknya.
            Dengan memperhatikan ketiga hal diatas, kita berharap berbagai potensi tindak kekerasan yang dialami oleh anak dapat dihindari sedini mungkin. Dengan begitu lingkungan sekolah pun akan mampu menjadi tempat (paling) aman bagi anak dalam menuntut ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar