Sabtu, 24 Mei 2014

Media Sosial dan Predator Anak



Jumlah kekerasan (seksual) terhadap anak semakin hari nampaknya semakin memprihatinkan. Berdasarkan data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), dari Januari sampai dengan Juni 2013 tercatat sedikitnya ada 1.032 kasus kekerasan terhadap anak.  Kekerasan tersebut terdiri dari kekerasan fisik sebanyak 294 kasus (28 %), kekarasan psikis 203 kasus (20 %) dan kekerasan seksual sebanyak 535 kasus (52 %).
            Tingginya angka kekerasan seksual pada anak ini bukan tanpa alasan. Selain akibat dari lemahnya pengawasan orang tua dan guru, kemajuan dibidang teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat namun tidak disertai dengan etika oleh penggunanya disinyalir turut mendorong tingginya jumlah kekerasan tersebut.
            Dizaman serba Cyber seperti sekarang ini, kekerasan seksual sangat mungkin terjadi sekalipun tanpa pertemuan fisik. Perkembangan media sosial yang sangat pesat (seperti Facebook dan Twitter) ternyata mendorong munculnya Webcam Child Sex Tourism (WCST) atau pariwisata seks anak melalui webcam.
Para pelaku kejahatan yang merupakan orang dewasa mengincar anak-anak yang aktif dimedia sosial sebagai korbannya. Modusnya, anak diminta untuk memamerkan bagian tubuh tertentu melalui kamera dengan imbalan sejumlah uang. Tertangkapnya tiga remaja tanpa mengenakan busana disebuah warnet di kota Semarang beberapa waktu yang lalu bisa jadi merupakan korban kekerasan seksual semacam ini. 
            Menurut Terre des Hommes, sebuah organisasi sosial yang peduli terhadap anak, Indonesia termasuk 10 besar negara dengan jumlah kekerasan seksual terhadap anak yang cukup tinggi. Hal ini dimungkinkan mengingat Indonesia menduduki peringkat ketiga pengguna media sosial setelah Amerika dan Cina. Disisi lain, banyaknya orang tua yang tidak mengetahui cara menggunakan gadget terbaru menjadi persoalan tersendiri dalam melakukan fungsi pengawasan terhadap konten-konten yang terdapat pada gadget anaknya. Selain itu sikap orang tua yang “enggan” untuk aktif dimedia sosial menjadikan orang tua tidak mengetahui aktivitas anaknya di media sosial dan dengan siapa saja mereka bergaul.
            Untuk mencegahnya terulangnya kasus-kasus serupa diperlukan kerjasama antara guru dan orang tua. Peran guru dalam menanamkan nilai-nilai etika didunia nyata dan dunia maya tentunya sangat kita harapkan. Adapun bagi orang tua, ikut aktif di jejaring sosial dimana anaknya terdaftar sebagai member, akan mempermudah fungsi pengawasan sekaligus dapat mengetahui apa saja yang mereka butuhkan. Selain itu tak kalah penting adalah sanksi tegas dari aparat penegak hukum untuk menjerat para pelaku agar mereka jera dan berpikir dua kali untuk melakukan kekerasan.
            Dengan adanya upaya-upaya tersebut kita berharap dimasa yang akan datang tidak ada lagi tunas-tunas bangsa yang menjadi korban kekerasan (seksual) dan akhirnya harus layu sebelum berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar