Sabtu, 31 Mei 2014

Memahami Karakter Peserta Didik



Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Andri Sobari alias Emon kepada puluhan anak di kabupaten Sukabumi, Jawa Barat hendaknya menjadi perhatian kita bersama. Pelaku yang masih tergolong usia remaja tersebut terpaksa harus mendekam di tahanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Akibatnya, Emon pun terancam kehilangan masa depannya karena harus menghabiskan masa mudanya dibalik jeruji besi.
            Jika kita telusuri lebih jauh, munculnya kasus yang menimpa Emon sejatinya tidak dapat dilepaskan dari peran guru yang bersangkutan saat dia masih duduk di bangku sekolah. Kasus semacam ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika guru (terutama wali kelas) benar-benar memahami karakter peserta didiknya. Berbagai gejala yang menjurus pada perbuatan menyimpang seharusnya dapat dideteksi sedini mungkin untuk kemudian dilakukan pencegahan.
            Sayangnya masih banyak dari para pendidik kita yang terkesan “menjaga jarak” dengan peserta didiknya. Hubungan antara guru dan murid seakan terhalang “tembok tebal” yang bernama kurikulum. Kebanyakan dari kita masih menganggap materi yang harus disampaikan jauh lebih penting daripada memahami kondisi peserta didik itu sendiri. Padahal apa yang tengah dialami oleh mereka tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan belajarnya maupun hubungan sosial dengan sesamanya.
            Untuk mencegah terulangnya kasus-kasus serupa, setiap pendidik hendaknya  berusaha memahami karakter setiap anak didiknya dengan baik. Selalu menjaga komunikasi dengan peserta didik maupun orang tuanya merupakan cara terbaik untuk memahami karakter anak yang sesungguhnya. Hal ini dikarenakan, apa yang terlihat di permukaan belum tentu mencerminkan karakter yang sebenarnya. Tidak sedikit anak yang sehari-harinya berperilaku baik ternyata menjadi pelaku kekerasan fisik maupun seksual.
            Adapun bagi anak yang tengah berada dalam kondisi tertentu hendaknya mendapatkan perhatian khusus dibandingkan dengan anak-anak lainnya tanpa bermaksud untuk membeda-bedakan. Hal ini perlu dilakukan guna mengetahui apa sebenarnya yang sedang dibutuhkan oleh anak. Memberikan perhatian khusus atau bahkan treatment bagi anak-anak tertentu akan sangat membantu mereka dalam memecahkan persoalan yang tengah mereka hadapi. Anak yang kecanduan merokok ataupun masturbasi tentunya jauh lebih membutuhkan therapy daripada sekedar sanksi. Memberikan sanksi tanpa memberi solusi hanya akan membuat mereka semakin terperosok ke jurang yang lebih dalam.
            Berdasarkan penjelasan diatas, memahami karakter peserta didik dengan baik nampaknya menjadi keharusan bagi setiap pendidik. Jika tidak, tujuan pembelajaran yang akan dicapai sampai kapan pun tidak akan pernah terlaksana dengan baik dan generasi emas seperti yang dicita-citakan pun tidak akan pernah terwujud.
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar