Sabtu, 17 Mei 2014

Saatnya Guru Menulis Buku



Budaya menulis di kalangan guru akhir-akhir ini memang menunjukkan trend yang sangat positif. Hal tersebut dapat kita lihat dari munculnya wajah-wajah baru yang menghiasi berbagai media cetak maupun online. Hampir setiap hari, kita bisa “menikmati” ide-ide segar mereka melalui kolom opini yang diperuntukkan khusus bagi guru. Fenomena ini sejatinya tidak dapat dilepaskan dari peran media cetak maupun online yang ada dalam menyediakan wadah bagi para guru untuk menuangkan buah pikirannya melalui tulisan.
Meskipun demikian, jumlah guru yang mau menuangkan ide-ide segarnya dalam bentuk buku masih jauh dari harapan. Dari total sekitar 3 juta lebih guru yang tersebar di seluruh Indonesia, tak lebih dari lima persennya yang berani menulis buku. Padahal budaya menulis sangat penting bagi seseorang yang berprofesi sebagai pendidik.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan para guru kita enggan untuk memulai menulis (buku). Pertama, masih rendahnya budaya membaca di kalangan guru secara otomatis berpengaruh pula pada rendahnya motivasi mereka untuk menulis. Dengan kata lain, kebiasaan membaca menjadi syarat mutlak bagi siapa saja untuk mampu membuat tulisan.  
Kedua, banyaknya aktivitas yang dilakukan di sekolah tak jarang membuat guru “terjebak” dalam kegiatan rutinitas. Akibatnya, guru pun tak lagi memiliki energi yang cukup untuk menuangkan berbagai gagasan maupun pengalamannya melalui tulisan. Sesampainya di rumah, kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk beristirahat maupun mengerjakan urusan rumah tangga.
Ketiga, alasan lain guru enggan menulis buku adalah keterbatasan kemampuan mereka dalam merangkai kata. Kenyataan menunjukkan, banyak sekali guru-guru kita yang mempunyai ide-ide cemerlang maupun pengalaman-pengalaman yang sangat berharga untuk dibagi kandas begitu saja akibat ketidakmampuan mereka untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Untuk menulis sebuah buku sebenarnya tidak terlalu sulit. Yang dibutuhkan hanyalah meluangkan waktu untuk memperbanyak bacaan dan konsisten dalam menulis. Menuangkan tulisan dalam blog pribadi sejatinya bisa menjadi awal yang baik dalam melatih kemampuan menulis. Penulis sendiri baru saja menyelesaikan sebuah buku yang berjudul “Memaknai Profesi Pendidik”. Sekalipun buku tersebut masih jauh dari sempurna, namun bagi penulis pribadi buku tersebut mampu menjadi wadah untuk menuangkan buah pikiran maupun berbagai pengalaman penulis selama berprofesi sebagai pendidik.  Selain itu bergabung dengan komunitas menulis seperti Gerakan Guru Menulis Buku (G2MB) dapat menambah wawasan kita tentang bagaimana cara menyusun sebuah buku yang baik.
Dengan semakin banyaknya guru yang menulis buku, diharapkan budaya menulis di kalngan siswa pun akan semakin meningkat. Selain itu dengan semakin banyaknya buku yang ditulis oleh para guru, budaya literasi di kalangan guru yang dulu pernah terkikis, akan kembali mewarnai dunia pendidikan kita. Selamat Hari Buku Nasional, 17 Mei !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar