Selasa, 20 Mei 2014

Selamat Datang, Para Wakil Rakyat !



Komisi Pemilihan Umum (KPU) baru saja mengumumkan hasil perolehan suara untuk Pemilu Legislatif yang dilakukan pata tanggal 9 April lalu. Hasilnya, dari 12 parpol peserta pemilu, hanya sepuluh parpol yang dinyatakan lolos memenuhi ambang batas parlemen. Artinya, hanya ada sepuluh fraksi saja yang akan duduk di senayan untuk lima tahun yang akan datang. Sekalipun masih didominasi wajah-wajah lama, gedung wakil rakyat yang baru ini juga dihiasi oleh wajah-wajah baru sebagai konsekuensi dari lahirnya partai baru maupun akibat dari ditangkapnya beberapa anggota dewan periode saat ini karena terlibat kasus korupsi sehingga tidak bisa mencalonkan diri lagi.
            Sebagai wakil rakyat yang bertugas untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat yang telah memilihnya, kita tentu sangat berharap mereka mampu mengemban amanah yang tidak ringan tersebut. Adapun Komisi X sebagai komisi yang bertugas untuk mengawasi berbagai kebijakan pemerintah di bidang pendidikan diharapkan mampu bekerja maksimal dalam memperbaiki wajah dunia pendidikan kita.
            Lolosnya kebijakan-kebijakan yang kontroversial seperti pelaksanaan Ujian Nasional (UN) maupun pemberlakuan kurikulum baru yang terkesan dipaksakan sejatinya tidak dapat dilepaskan dari peran wakil rakyat yang saat ini duduk di Komisi X. Banyaknya kebijakan yang bertentangan dengan kebutuhan di lapangan tersebut bisa jadi disebabkan karena ketidakpahaman mereka terhadap (kebutuhan) dunia pendidikan. Tak heran jika pada pemilu 2014 ini tidak sedikit para guru yang “turun gunung” mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif dengan niat untuk memperbaiki kondisi dunia pendidikan.
            Disisi lain jarang disentuhnya isu tentang pendidikan di tanah air menjadi pekerjaan rumah bagi anggota dewan terpilih khususnya mereka yang akan duduk di Komisi X. Selama ini tema tentang pendidikan hanya sebatas isu tahunan yaitu pada saat pelaksanaan UN. Selebihnya, para wakil rakyat kita  lebih suka “menggoreng” isu-isu lain dengan tujuan untuk menjatuhkan lawan-lawan politiknya. Isu-isu seperti lumpur Lapindo, kasus Bank Century, janji-janji kampanye yang tidak terbukti hingga kasus pelanggaran HAM berat rupanya lebih menarik untuk dibahas, terlebih di tahun politik seperti saat ini. Padahal pendidikan sejatinya memegang peranan penting dalam menentukan maju atau tidaknya suatu bangsa.
            Berkaca pada pengalaman yang telah lalu, kita berharap wakil rakyat terpilih yang sebentar lagi akan merasakan empuknya kursi dewan, akan berusaha lebih maksimal dalam memperjuangkan aspirasi rakyatnya. Adapun pendidikan sejatinya menjadi isu utama yang mereka angkat dalam upaya membebaskan bangsa ini dari keterpurukan sebagai akibat dari “penjajahan” oleh bangsa lain. Dengan begitu bangsa Indonesia pun akan mampu menjadi bangsa yang benar-benar berdaulat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar