Jumat, 06 Juni 2014

Hilangkan Dikotomi Antara PTN dan PTS

Dalam hitungan bulan, siswa yang saat ini tengah duduk di bangku SMU kelas XII akan segera memasuki dunia barunya yaitu perguruan tinggi. Sebagian besar sekolah pun dinyatakan telah selesai mengisi data-data pada Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) yang dibuka sejak tanggal 6 Januari yang lalu. Hal tersebut dilakukan sebagai syarat untuk mendaftar ke perguruan tinggi negeri (PTN). Berkas-berkas untuk persyaratan pun telah disiapkan, mulai dari akta kelahiran, nilai raport selama lima semester sampai dengan kartu Nomor Induk Siswa Nasional (NISN).
Persaingan untuk mendapatkan tiket masuk ke PTN untuk tahun ini memang akan lebih sengit dari tahun sebelumnya. Diperkirakan tidak kurang dari 1,2 juta siswa SMU yang akan bersaing memperebutkan 150.000 kursi. Pertanyaannya, layakkah mereka yang tidak berhasil mendapatkan tiket untuk masuk PTN tersebut dikatakan tidak beruntung hanya karena pada akhirnya mereka harus kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ? Paradigma yang memandang bahwa PTN (selalu) lebih baik dari PTS nampaknya perlu kita renungkan kembali.
Dalam pandangan penulis, bermutu atau tidaknya sebuah perguruan tinggi tidak ditentukan oleh status yang melekat pada perguruan tinggi tersebut. Lebih jauh lagi, kesuksesan seseorang tidak (hanya) ditentukan oleh tempat dimana mereka mengenyam bangku kuliah. Realitas menunjukkan, banyak PTN yang pada akhirnya hanya “memproduksi” pengangguran terdidik. Disisi lain tidak sedikit berbagai prestasi akademik maupun non akademik justru ditorehkan oleh para mahasiswa yang berasal dari PTS. Bahkan dalam banyak kasus, jebolan PTS lebih mampu bersaing untuk mendapatkan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan disiplin ilmunya dibandingkan dengan lulusan PTN sekalipun hanya berbekal ijzah Diploma.
Jika kita telusuri lebih jauh, mutu sebuah perguruan tinggi lebih banyak ditentukan oleh kemampuan pengambil kebijakan di perguruan tinggi tersebut dalam mengelola lembaganya. Mengikuti setiap perkembangan yang terjadi di masyarakat merupakan suatu keharusan. Oleh karena itu berbagai inovasi pun senantiasa dilakukan untuk menjawab setiap tantangan yang dihadapi. Pada akhirnya, mereka yang tetap eksist adalah mereka yang berusaha untuk senantiasa ngigelan jaman.
Mengembangkan kurikulum, menjalin kerjasama dengan lembaga lain sampai dengan melakukan upgrading secara berkala untuk para pengajarnya merupakan karakteristik sebuah perguruan tinggi yang memiliki visi jauh kedepan. Perguruan tinggi semacam ini sama sekali tidak terpengaruh oleh status yang melekat padanya. Bagi mereka peningkatan mutu menjadi kunci untuk mampu bertahan daripada sekedar mengharapkan “proteksi” dari pemerintah.
Berdasarkan penjelasan tersebut, tidak tepat rasanya jika kita mengatakan siswa yang tidak berhasil mendapatkan tiket masuk ke PTN adalah siswa yang gagal. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh tempat dimana mereka belajar namun sejauh mana usaha mereka untuk mencapai kesusksesan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar