Kamis, 26 Juni 2014

Mengajak Siswa Mengenal Hilal



        
        Kurang dari sepekan lagi, seluruh umat islam di tanah air akan melaksanakan ibadah puasa. Berbagai persiapan pun tengah dilakukan untuk menyambut datangnya bulan yang suci ini. Tak terkecuali para siswa yang sudah baligh, mereka pun harus menyiapkan diri mereka agar sanggup melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Namun demikian, ada satu persoalan yang hampir tiap tahun selalu terulang dan membuat  masyarakat bingung, yaitu penentuan awal bulan ramadhan. Adanya perbedaan awal pelaksanaan puasa diantara sesama umat islam ini membuat masyarakat tidak mudah untuk memutuskan akan mengikuti pendapat yang mana.
            Akibatnya sebagian besar masyarakat pun mengikuti waktu pelaksanaan puasa seperti yang ditentukan oleh pemerintah dengan dalih “sebagai warga negara yang baik” tanpa memahami mengapa mereka harus memulai puasa pada waktu tersebut. Adapun sebagaian lainnya lebih memilih waktu yang telah ditentukan oleh pimpinan ormas masing-masing sebagai konsekuensi dari keanggotaan mereka dalam ormas tersebut.  Adapun siswa sendiri biasanya mengikuti pendapat orang tuanya, baik itu yang mengikuti anjuran pemerintah maupun yang berbeda dengan anjuran pemerintah karena kebetulan orang tuanya anggota ormas tertentu.
Sebagai seorang pendidik, kita tentu berkewajiban memberikan penjelasan yang rasional dan ilmiah kepada para peserta didik kita perihal perbedaan yang terjadi. Kita tentu tidak ingin mereka kehilangan daya kritisnya. Untuk itu ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh guru. Pertama, guru menjelaskan pengertian secara ilmiah apa itu hilal, kapan hilal tersebut muncul serta bagaimana cara melihatnya. Dalam hal ini guru dapat menggunakan alat peraga maupun tayangan animasi yang bisa didownload di internet untuk menjelaskan hal tersebut kepada para siswa.
            Kedua, guru menjelaskan dalil-dalil berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist tentang penetapan awal bulan suci ramadhan. Hal ini diperlukan agar siswa memiliki pemahaman yang baik sebagai bekal bagi mereka dalam mengambil keputusan. Dengan begitu diharapkan mereka memiliki sikap sendiri dan tidak hanya ikut-ikutan. Ketiga, memberikan penjelasan secara objektif dan menyeluruh tentang  perbedaan yang terjadi dimasyarakat. Hal tersebut diperlukan agar siswa tidak menilai perbedaan yang terjadi hanya sebatas akibat dari adanya perbedaan sikap pemimpin ormas islam yang satu dengan ormas islam yang lainnya,  namun lebih kepada perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan keputusan yang diambil maupun dalil-dalil yang digunakan.
Dengan memberikan penjelasan yang komprehensip kepada para siswa, kita berharap mereka memiliki pijakan yang jelas maupun alasan yang rasional ketika mereka harus memilih salah satu diantara dua pilihan. Dengan begitu diharapkan mereka pun akan senantiasa berpikir logis dalam setiap tindakan dalam kehidupan sehari-hari. (Dimuat di Harian Umum Republika, 22 Juni 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar