Jumat, 13 Juni 2014

Menyoal Disfungsi Sekolah



Perubahan gaya hidup masyarakat modern seperti saat ini ternyata membawa dampak yang cukup besar terhadap pola asuh anak. Adanya fenomena yang berkembang dimasyarakat dimana tidak hanya ayah yang bekerja menyebabkan orang tua harus mencari cara agar anaknya tetap mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang baik. Akhirnya sekolah pun mereka jadikan sebagai tempat penitipan anak (TPA) untuk mengasuh anaknya. Bagi masyarakat “modern” sekolah tidak lagi menjadi tempat bagi anak-anaknya untuk menunutut ilmu, lebih dari itu mereka jadikan sekolah sebagai tempat untuk menitipkan anak-anak mereka selagi mereka sibuk bekerja diluar.
            Fenomena semacam ini biasanya terjadi pada sekolah-sekolah yang menerapkan sistem full day maupun sekolah islam terpadu yang memang memiliki waktu belajar yang relatif lebih lama dibandingkan sekolah-sekolah lainnya. Jika siswa disekolah lain hanya belajar sampai dengan pukul 12.00, tidak demikian halnya dengan sekolah yang menggunakan sistem full day. Disana anak tinggal disekolah dari pagi hingga sore hari. Kesempatan inilah yang digunakan oleh para orang tua untuk menitipkan anak-anaknya. Mereka dapat bekerja dengan tenang dikantor tanpa ada yang “mengganggu”.
            Persoalan muncul manakala berbagai hal yang dijanjikan oleh orang tua ketika proses wawancara seperti akan tetap menjaga komunikasi dengan pihak sekolah dan membimbing anaknya dirumah ternyata tidak terbukti di lapangan. Keberadaan anak dirumah tidak dipandang sebagai kesempatan untuk lebih mendekatkan hubungan antara anak dan orang tua, khususnya dalam mendampingi anak untuk belajar dirumah. Keberadaaan anak dirumah malah dianggap sebagai “pengganggu” aktivitas orang tua dalam menjalankan pekerjaan kantor atau bisnisnya. Maka tak heran jika waktu libur tiba banyak orang tua yang mengeluh karena harus membawa anaknya ke tempat kerja. Sungguh memprihatinkan !
             Akibatnya setiap kali ada persoalan yang dialami oleh siswa, biasanya pihak sekolah yang selalu disalahkan. Mereka beranggapan pihak sekolah lah yang bertanggung jawab atas keseluruhan proses perkembangan akademik maupun akhlak anak-anak mereka. Sementara kewajiban orang tua hanya membayar SPP setiap bulan dan setelah itu selesai. Disisi lain, pihak sekolah menganggap orang tua lah yang lebih bertanggung jawab atas perkembangan anaknya mengingat sebagian besar waktu yang dimiliki anak dihabiskan dirumah. Alhasil saling lempar tanggung jawab pun tak terhindarkan dan anaklah yang pada akhirnya menjadi korban.
            Andai saja orang tua mau sedikit saja meluangkan waktunya untuk secara rutin berkomunikasi dengan pihak sekolah dalam hal ini wali kelas mungkin orang tua dapat memahami kondisi objektif anaknya. Akan tetapi fakta di lapangan menunjukkan, masih banyak orang tua hanya mau mengantarkan anaknya sampai gerbang sekolah, setelah itu langsung berangkat ke kantor. Begitu pun ketika menjemput, mereka hanya mau menunggu diluar. Kalaupun masuk ke area sekolah tak lain hanya untuk membayarkan uang SPP saja. Kebiasaan semacam ini tentu saja menimbulkan kesan bahwa sekolah tak ada bedanya dengan TPA.
            Paradigma keliru tentang sekolah ini tentu saja harus segera dirubah. Sekolah bukanlah tempat untuk menitipkan anak sementara orang tua bekerja. Sekolah adalah tempat dimana anak-anak dididik agar menjadi insan yang berilmu dan berakhlak mulia. Namun demikian, tujuan mulia tersebut akan tidak akan terwujud tanpa adanya peran serta orang tua dirumah yang melanjutkan atau menyempurnakan proses pendidikan yang dilakukan oleh sekolah.


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar