Senin, 30 Juni 2014

Setiap Anak Adalah Anugerah



Banyaknya kasus kekerasan yang menimpa anak terjadi karena sikap orang tua yang tidak bisa menerima anak apa adanya. Akibatnya anak pun mencari tempat lain untuk menyampaikan isi hatinya namun justru malah mencelakakannya. Itulah salah satu isi pidato Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan dalam acara hari ulang tahun Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Jawa Barat yang ke-64 beberapa waktu lalu.
            Menurutnya pria yang akrab disapa Kang Aher ini, hak anak yang paling pokok adalah hak untuk diterima oleh orang tua, sekolah dan masyarakat. Penerimaan orang tua terhadap kelebihan dan kekurangan anak merupakan hal yang paling utama mengingat orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak. Selain itu keluarga merupakan tempat pertama dan paling utama bagi anak untuk menjalani proses pendidikan.
            Senada dengan Kang Aher, Irene Sugihrehardja salah seorang guru yang mengadakan penelitian terhadap seratus orang anak perihal hubungan mereka dengan orang tua menyampaikan hasil penelitiannya yang menyebutkan bahwa kehadiran orang tua sangatlah dibutuhkan oleh anak dalam rangka proses pendidikan menuju terciptanya manusia seutuhnya. Artinya, keberhasilan proses pendidikan yang dijalani oleh anak sangat ditentukan sejauh mana orang tua memberikan perhatian kepada mereka.
Adapun sekolah yang seharusnya menjadi rumah kedua bagi anak, tak jarang justru menjadi “neraka kedua” bagi mereka. Disaat orang tua di rumah berkeluh kesah tentang  kekurangan yang dimiliki oleh anaknya, guru di sekolah justru melengkapi penderitaan mereka dengan berbagai kata-kata maupun ungkapan-ungkapan yang menyakitkan bagi anak. Alhasil, anak pun mencari pelarian di luar yang pada akhirnya tak jarang justru menjerumuskannya ke dalam lembah hitam.
Melihat kondisi semacam ini, alangkah bijaknya apabila orang tua mau menerima kondisi anaknya apa adanya. Adapun kekurangan yang dimiliki oleh anak sejatinya bukanlah aib yang harus ditutp-tutupi, melainkan kesempatan sekaligus ladang amal bagi orang tua dalam menunaikan amanah dari Allah Swt.
Di samping itu sekolah sebagai tempat dimana anak menimba ilmu hendaknya tidak menutup mata dalam menyikapi kondisi anak yang sebenarnya. Memahami kondisi peserta didik merupakan hal yang pertama harus dilakukan oleh sekolah sebelum memasukkan “sesuatu” ke dalam kepala mereka. Sebagai orang tua kedua, setiap pendidik dituntut untuk memahami karakter peserta didiknya beserta permasalahan yang dialaminya. Hal tersebut perlu dilakukan agar anak merasa dihargai keberadaannya. Masih adanya pendidik yang bersikap apatis terhadap permasalahan peserta didiknya patut kita sayangkan.
Dengan adanya perhatian yang diberikan oleh guru dan orang tua, kita berharap setiap anak benar-benar mendapatkan haknya. Dengan begitu proses pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan manusia seutuhnya pun benar-benar dapat terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar